Kenapa Uang Pertama Indonesia Dicetak di Pabrik Kopi?
ORI, uang pertama Republik, lahir di pabrik yang berawal dari usaha sangrai kopi di Malang. Jakarta dan Surabaya terlalu berbahaya untuk mencetak uang.
Uang pertama Indonesia, Oeang Republik Indonesia (ORI), dicetak di pabrik NIMEF di Kendalpayak, Malang, karena upaya mencetak di Surabaya dan Jakarta gagal di tengah perang [1]. Pabrik itu didirikan pada 1901 oleh dua orang Belanda sebagai usaha sangrai kopi [1]. ORI resmi beredar pada 30 Oktober 1946 [2].
Setiap 30 Oktober, kita memperingati Hari Oeang. Tanggalnya baru lewat beberapa hari. Tetapi cerita di balik lembar uang pertama itu jarang diceritakan: dari mana bahan kertasnya, di mana mesin cetaknya, dan bagaimana uang itu sampai ke tangan orang.
Kenapa Indonesia buru-buru mencetak uang sendiri?
Setelah proklamasi, ada empat mata uang beredar sekaligus: tiga dari Jepang dan satu peninggalan pemerintah Hindia Belanda [4]. Lalu Belanda kembali bersama tentara Sekutu dan membawa uangnya sendiri. Menurut Katadata, pada 6 Maret 1946 Belanda resmi mengedarkan uang NICA, yang dijuluki "Uang Merah" karena warnanya, sebagai alat pembayaran sah di daerah pendudukan [1].
Pemerintah menjawab dengan mempercepat pencetakan uang Republik [1]. Sejak 7 November 1945, Menteri Keuangan A.A. Maramis sudah membentuk panitia pencetakan uang kertas [3].
Kenapa dicetak di pabrik kopi?
Indonesia belum punya percetakan uang. Upaya mencetak di Surabaya gagal, begitu pula di Jakarta [1]. Pilihan jatuh ke NIMEF, singkatan dari Nederlandsch-Indische Metaalwaren en Emballage Fabrieken, di Kendalpayak, Malang [1].
Menurut Katadata, yang mengutip majalah Media Keuangan Kemenkeu edisi Oktober 2020, NIMEF didirikan pada 1901 oleh L. Schol dan H. Janssen van Raay sebagai pabrik sangrai kopi. Pabrik itu kemudian berkembang membuat kemasan kertas dan kaleng, kotak karton, kartu nama, sampai karcis trem, kereta api, dan bioskop [1]. GNFI mencatat bisnis kemasan itu dipisah dari usaha kopinya dan menjadi perusahaan sendiri bernama NIMEF pada 1918 [4].
Mesin-mesinnya termasuk yang tercanggih di Hindia Belanda, sebagian didatangkan langsung dari Eropa. Lokasinya juga jauh dari medan pertempuran dan berada di wilayah yang dikuasai Republik [1]. Maramis lalu mengganti namanya menjadi Pabrik Kaleng dan Percetakan Negara (PKPN) Kendalpayak, meski orang tetap menyebutnya NIMEF [1].
[Catatan Redaksi] Sumber berbeda soal tempat cetak pertama. Katadata menyebut NIMEF sebagai tempat ORI pertama kali dicetak, sementara Kompas menyebut pencetakan dilakukan di Percetakan Republik Indonesia. Pencetakan ORI memang dilakukan di beberapa kota, termasuk Malang, Solo, dan Yogyakarta [1][2].
Bagaimana uang itu sampai ke tangan orang?
Kertasnya dibantu Serikat Buruh Kertas Padalarang. Mesin pembuat kertas diselamatkan dari pabrik Padalarang sebelum dikuasai tentara Belanda, sementara bahan kimianya didatangkan dari Jakarta dan laboratorium pabrik gula di Jawa Timur [1].
Setelah tercetak, uang dimasukkan ke dalam besek, lalu ke karung goni, dan diangkut dengan kereta api ke seluruh Jawa [1].
Pada 29 Oktober 1946, Wakil Presiden Mohammad Hatta mengumumkannya lewat radio dari Yogyakarta. "Uang sendiri itu adalah tanda kemerdekaan negara," katanya [2]. Mulai 30 Oktober 1946 pukul 00.00, ORI berlaku sebagai alat pembayaran sah [3].
Berapa nilai ORI waktu itu?
Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1946 menetapkan dasar nilainya: sepuluh rupiah ORI sama dengan emas murni seberat lima gram [5]. Untuk penukaran, lima puluh rupiah uang Jepang disamakan dengan satu rupiah ORI. Di luar Jawa dan Madura, kursnya seratus banding satu [5].
| Ketentuan (UU No. 19/1946) | Nilai |
|---|---|
| Dasar nilai | 10 rupiah ORI = 5 gram emas murni |
| Penukaran di Jawa dan Madura | 50 rupiah uang Jepang = 1 rupiah ORI |
| Penukaran di luar Jawa dan Madura | 100 rupiah uang Jepang = 1 rupiah ORI |
Apa yang terjadi pada pabrik itu?
Peran NIMEF sebagai pencetak uang tidak lama. Ketika Belanda melancarkan Agresi Militer I pada 21 Juli 1947, pabrik di Malang dibumihanguskan agar tidak jatuh ke tangan Belanda. Uang yang sudah tercetak diungsikan ke Yogyakarta dengan pengawalan ketat [1].
Kami pernah menelusuri asal-usul nama negara ini, yang lahir dari kata yang sempat ditolak. Uang pun punya cerita yang sama tak terduganya. Dan soal uang dalam tradisi, kami juga pernah menulis tentang salah kaprah makna uang panai.
Renungan Arkeologi Keseharian
Uang yang kita pegang setiap hari berawal dari mesin pencetak kaleng kopi, kertas dari Padalarang, dan besek bambu di gerbong kereta. Kemerdekaan tidak hanya diperjuangkan dengan senjata dan diplomasi, tetapi juga dengan lembar kertas yang harus dipercaya orang sebagai uang.
Sumber
- Agung Jatmiko, "Melacak Jejak Fisik Oeang Republik Indonesia, Berawal dari Pabrik Kopi", Katadata, 14 Juni 2022. https://katadata.co.id/ekonopedia/sejarah-ekonomi/62a7b84e20ccb/melacak-jejak-fisik-oeang-republik-indonesia-berawal-dari-pabrik-kopi
- Debrinata Rizky, "Sejarah Hari Oeang Republik Indonesia, Awal Mula Lahirnya Rupiah", Kompas.com, 30 Oktober 2025. https://money.kompas.com/read/2025/10/30/084600626/sejarah-hari-oeang-republik-indonesia-awal-mula-lahirnya-rupiah
- Arlianti Vita, "Sekilas Sejarah Hari Oeang Republik Indonesia", DJKN Kementerian Keuangan (KPKNL Madiun), 30 Oktober 2023. https://www.djkn.kemenkeu.go.id/kpknl-madiun/baca-artikel/16545/Sekilas-Sejarah-Hari-Oeang-Republik-Indonesia.html
- Nurhadi Yasyi, "Kisah Lahirnya Oeang Repoeblik Indonesia yang Berasal dari Pabrik Sangrai Kopi", GNFI, 18 Januari 2021. https://www.goodnewsfromindonesia.id/2021/01/18/kisah-lahirnya-oeang-repoeblik-indonesia-yang-berasal-dari-pabrik-sangrai-kopi
- Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1946 tentang Pengeluaran Uang Republik Indonesia, JDIH BPK. https://peraturan.bpk.go.id/Download/13977/UU%20Nomor%2019%20Tahun%201946.pdf
Redaksi Anekdot
Redaksi Anekdot. Cerita dari rumah sendiri: asal-usul budaya, kebiasaan, dan hal-hal sehari-hari yang membentuk kita.
Cerita di balik kebiasaan kita, langsung ke emailmu.
Gratis. Setiap esai baru Anekdot dikirim ke kotak masukmu, lengkap dengan sumbernya.
Menemukan kekeliruan? Kirim ke [email protected]. Baca Pedoman Editorial.