Salah Kaprah Uang Panai: Mengapa Mahar Adat Bugis Bukan Ajang Jual Beli Perempuan?
Uang panai sering dicap ajang jual beli perempuan. Padahal dalam adat Bugis-Makassar, ia berbeda dari mahar dan menjadi lambang penghormatan martabat wanita.
Uang panai dalam adat Bugis-Makassar berbeda dari mahar [2]. KBBI mencatatnya sebagai uang hasil kesepakatan bersama yang diberikan keluarga calon mempelai laki-laki kepada keluarga calon mempelai perempuan untuk biaya pernikahan [1]. Sosiolog Universitas Hasanuddin menyebutnya lambang penghormatan kepada perempuan, bukan harga yang dibayar untuk mereka [2].
Di media sosial dan obrolan tongkrongan, tradisi uang panai kerap menjadi bahan perbincangan hangat. Nominalnya yang berkisar dari jutaan hingga ratusan juta rupiah [2] membuat sebagian kalangan awam memberi cap sepihak: tradisi yang memberatkan, ajang pamer gengsi keluarga, atau bahkan komersialisasi anak gadis.
Pandangan tersebut lahir dari kesalahpahaman dalam membedakan kedudukan uang panai dalam tata cara pernikahan adat di Sulawesi Selatan.
1. Apa Beda Uang Panai dengan Mahar?
Kekeliruan paling umum di tengah masyarakat adalah menyamakan uang panai dengan mahar atau mas kawin. Padahal keduanya berbeda peruntukan [2].
Mahar, menurut KBBI, adalah pemberian wajib berupa uang atau barang dari mempelai laki-laki kepada mempelai perempuan ketika akad nikah [4]. Sementara itu, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), uang panai didefinisikan sebagai "uang hasil kesepakatan bersama yang diberikan pihak keluarga calon mempelai laki-laki kepada pihak keluarga calon mempelai perempuan, digunakan sebagai biaya pernikahan" [1].
Kajian sosiologi menegaskan bahwa uang panai beda dengan mahar dan beda pula dengan seserahan; peruntukan uang panai sepenuhnya ditujukan ke keluarga pihak perempuan [2], dan KBBI menyebut kegunaannya sebagai biaya pernikahan [1]. Urusan uang dalam hajatan memang punya aturan adatnya masing-masing, seperti tradisi buwuh yang mencatat amplop kondangan di Jawa.
2. Mengapa Uang Panai Dipandang Sebagai Lambang Kehormatan?
Dalam kebudayaan Bugis-Makassar, uang panai memiliki keterkaitan erat dengan falsafah siri'—yakni konsep harga diri, kehormatan, dan kewibawaan keluarga [2].
Sosiolog Universitas Hasanuddin, Rahmat Muhammad, menjelaskan bahwa uang panai adalah perlambang penghormatan suku Bugis-Makassar terhadap kaum perempuan, yang diwujudkan secara spesifik sebagai bentuk penghormatan calon suami terhadap calon istri [2]. Nominal yang disepakati diumumkan dalam salah satu prosesi pernikahan, sehingga ikut menjadi perlambang gengsi keluarga [2]. Menurut budayawan Sulawesi Selatan Nurhayati Rahman, besaran uang panai di zaman sekarang banyak ditentukan oleh status sosial perempuan yang dilamar [3].
3. Bagaimana Uang Panai Menguji Etos Kerja Pemuda?
Dari sudut pandang keluarga perempuan, uang panai juga dibaca sebagai ujian bagi calon mempelai laki-laki.
Nurhayati Rahman mengemukakan bahwa nilai luhur uang panai terletak pada ujian kesungguhan seorang laki-laki mencari nafkah [3]. Pihak keluarga wanita ingin melihat keseriusan calon pelamar, sehingga perkawinan tidak hanya didasarkan pada keinginan sepihak tanpa kemauan bekerja keras [3].
Ujian itu punya sisi pahit. Ketika nominal yang diminta terlalu tinggi, lamaran bisa ditolak dan hubungan bisa kandas [2], [3]. Nurhayati sendiri menyebut ada nilai positif dan negatif yang bisa diambil dari tradisi ini [3]. Bagi generasi yang juga sedang berjuang membeli rumah, angka ratusan juta tentu bukan perkara kecil.
Catatan Redaksi
Uang panai lebih tepat dibaca sebagai bagian dari adat yang mengikat kehormatan dua keluarga, bukan banderol harga seorang perempuan. Di balik angka yang disepakati di meja lamaran ada harapan akan kesungguhan, sekaligus beban yang tidak selalu ringan.
Sumber
- KBBI VI Daring, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, entri "uang panai" (diakses 28 Oktober 2026). https://kbbi.kemendikdasmen.go.id/entri/uang%20panai
- Danu Damarjati, "Seluk Beluk Uang Panai, Antara Harga Diri dan Penolakan ke Calon Suami", detikNews (9 Juli 2019). https://news.detik.com/berita/d-4617031/seluk-beluk-uang-panai-antara-harga-diri-dan-penolakan-ke-calon-suami
- Hendra Cipto, "Pernikahan ala Adat Bugis Makassar, Jumlah Uang Panaik Ditentukan Status Sosial Wanita", Kompas.com Regional (9 Maret 2018). https://regional.kompas.com/read/2018/03/09/08201001/pernikahan-ala-adat-bugis-makassar-jumlah-uang-panaik-ditentukan-status
- KBBI VI Daring, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, entri "mahar" (diakses 28 Oktober 2026). https://kbbi.kemendikdasmen.go.id/entri/mahar
Redaksi Anekdot
Redaksi Anekdot. Cerita dari rumah sendiri: asal-usul budaya, kebiasaan, dan hal-hal sehari-hari yang membentuk kita.
Cerita di balik kebiasaan kita, langsung ke emailmu.
Gratis. Setiap esai baru Anekdot dikirim ke kotak masukmu, lengkap dengan sumbernya.
Menemukan kekeliruan? Kirim ke [email protected]. Baca Pedoman Editorial.