Siapa yang Memberi Nama Indonesia? Kata yang Ditolak, Lalu Dipungut di Catatan Kaki

Nama negara kita lahir dari kata yang ditolak pengusulnya, lalu dipungut seorang pengacara Skotlandia di catatan kaki jurnal Singapura, 1850.

Redaksi Anekdot · 3 menit baca
Bagikan
Siapa yang Memberi Nama Indonesia? Kata yang Ditolak, Lalu Dipungut di Catatan Kaki
Halaman 254 Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia, 1850. Kata Indonesia tercetak di catatan kaki. Sumber: Internet Archive (domain publik).

Nama Indonesia pertama kali tercetak pada 1850, di sebuah catatan kaki tulisan James Richardson Logan dalam jurnal terbitan Singapura [1]. Kata asalnya, "Indu-nesians", diusulkan George Windsor Earl di jurnal yang sama, tetapi Earl sendiri menolaknya [1]. Logan memungut kata buangan itu, mengganti satu huruf, dan jadilah "Indonesia" [3].

Hari ini nama itu terasa begitu wajar sampai jarang dipertanyakan. Sejarawan Russell Jones menulis, pilihan nama Indonesia pada 1945 begitu jelas sehingga "has attracted little comment" [2]. Padahal ceritanya penuh kebetulan: kata yang ditolak, ditulis di bagian paling kecil sebuah halaman, oleh orang yang mengaku tidak suka kata semacam itu.

Siapa yang pertama mengusulkan kata itu?

Pada 1850, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia terbit di Singapura. Di volume keempatnya, George Windsor Earl, pengamat asal Inggris, menulis bahwa penduduk kepulauan ini butuh nama khas. Nama yang ada, "Indian Archipelago" atau "Malayan Archipelago", dinilainya tidak cukup [1].

Earl lalu meminjam kata Yunani untuk pulau, nesos, seperti pada kata Polynesia. Hasilnya dua pilihan: Indu-nesians atau Malayunesians [1]. Ia memilih yang kedua. Menurutnya, Indunesia terlalu umum dan bisa dianggap berlaku juga untuk orang Ceylon dan Maladewa [1]. Earl bahkan menambahkan bahwa ia tidak bermaksud menawarkan istilahnya untuk dipakai umum [1].

Bagaimana kata yang ditolak itu dipungut?

Di volume yang sama, James Richardson Logan menulis artikel panjang tentang etnologi kepulauan ini. Logan lahir di Skotlandia pada 1819, belajar hukum di Edinburgh, dan menjadi editor jurnal itu [5]. Di sebuah catatan kaki, ia menulis bahwa nama Indian Archipelago terlalu panjang. Ia menyebut usulan Earl yang ditolak, lalu menulis: "I prefer the purely geographical term Indonesia" [1].

Huruf "u" diganti "o". Dari situ, kata Logan, kita mendapat "Indonesians" untuk penduduk kepulauan ini [1].

Bagian paling ironisnya ada di kalimat berikutnya. Logan mengaku tidak menyukai kata-kata setengah Yunani semacam itu, dan ingin semua kata berakhiran "-nesia" dihapus dari peta kalau ada padanan yang lebih baik [1].

Kenapa nama itu tidak langsung terkenal?

Kata itu sempat tenggelam. Menurut detikEdu, yang mengutip buku The Idea of Indonesia karya Robert Edward Elson, kata Indonesia baru dipakai lagi pada 1877 oleh antropolog Prancis E.T. Hamy [3]. Kata itu mulai dianggap serius setelah etnografer Jerman Adolf Bastian memakainya untuk lima jilid bukunya, Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel, yang terbit 1884 sampai 1894 [3].

Sampai awal abad ke-20, Indonesia masih istilah ilmiah: dipakai ahli bahasa, etnolog, dan geografer, bukan nama sebuah bangsa.

Tahun Siapa Apa yang terjadi
1850 George Windsor Earl Mengusulkan "Indu-nesians", lalu menolaknya [1]
1850 James Richardson Logan Memakai "Indonesia" di catatan kaki [1]
1877 E.T. Hamy Memakai lagi kata Indonesia [3]
1884–1894 Adolf Bastian Lima jilid buku berjudul Indonesien [3]
1922 Indische Vereeniging Berganti nama menjadi Indonesische Vereeniging [4]
1925 Indonesische Vereeniging Berganti nama menjadi Perhimpunan Indonesia [4]

Kapan Indonesia menjadi nama perjuangan?

Perubahan datang dari mahasiswa Hindia di Belanda. Perkumpulan mereka, Indische Vereeniging, berdiri pada 1908. Menurut detikEdu, kata Hindia dirasa merendahkan, sehingga pada 1922 perkumpulan itu berganti nama menjadi Indonesische Vereeniging, dan pada 3 Februari 1925 menjadi Perhimpunan Indonesia [4]. Sejak itu kata Indonesia dipakai secara politis untuk menggantikan nama Hindia Belanda [4].

Mohammad Hatta menulis pada 1928 bahwa bagi mereka, Indonesia adalah "a political objective", tujuan politik yang melambangkan tanah air merdeka di masa depan [2]. Tahun yang sama, para pemuda mengikrarkan tanah air, bangsa, dan bahasa bernama Indonesia. Kami pernah menelusuri kenapa Sumpah Pemuda tidak menyebut satu bahasa, dan nama Indonesia ada di jantung ikrar itu.

Menurut Jones, nama itu sebetulnya bisa saja jatuh pada nama asli, misalnya Nusantara [2]. Tetapi pada 17 Agustus 1945, pilihan sudah jelas: Indonesia [2].

Di mana orang yang memberi nama itu dimakamkan?

Logan tidak pernah melihat negara yang memakai kata ciptaannya. Ia meninggal karena malaria pada 1869 dan dimakamkan di pemakaman Protestan di Penang, Malaysia [5]. Jurnalis Anil Netto mencatat, monumen Logan di sana menyebutnya pengacara yang cakap dan ahli etnologi terkemuka [5]. Orang yang memberi nama negara kita beristirahat di negeri tetangga.

Kata pinjaman dari bahasa asing memang sering menempuh jalan berliku sebelum jadi milik kita, seperti kenapa kucing dipanggil "pus".

Renungan Arkeologi Keseharian

Kita menyebut nama Indonesia setiap hari, di KTP, lagu kebangsaan, dan papan nama sekolah. Asalnya justru sederhana dan agak kebetulan: kata yang ditolak, dipungut di catatan kaki oleh orang yang tidak suka kata itu. Yang membuatnya berarti bukan Earl atau Logan, melainkan para pemuda yang lebih dari tujuh puluh tahun kemudian memutuskan nama itu layak diperjuangkan.


Sumber

  1. The Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia, Vol. IV, Singapura, 1850: G.W. Earl, "On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malayu-Polynesian Nations" (hlm. 66–74), dan J.R. Logan, "The Ethnology of the Indian Archipelago" (hlm. 252–347). Teks pindaian lengkap di Internet Archive. https://archive.org/download/in.ernet.dli.2015.283376/2015.283376.The-Journal_djvu.txt
  2. Russell Jones, "Earl, Logan and 'Indonesia'", Archipel 6, 1973, hlm. 93–118. https://www.persee.fr/doc/arch_0044-8613_1973_num_6_1_1130
  3. Trisna Wulandari, "Sejarah Nama Indonesia, dari Kepulauan hingga Negara", detikEdu, 18 Agustus 2024. https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-7495250/sejarah-nama-indonesia-dari-kepulauan-hingga-negara
  4. Rika Pangesti, "Sejarah Perhimpunan Indonesia, Awal Mula Gerakan Mahasiswa Tanah Air", detikEdu, 22 Desember 2021. https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-5866252/sejarah-perhimpunan-indonesia-awal-mula-gerakan-mahasiswa-tanah-air
  5. Anil Netto, "The man who gave Indonesia its name rests in Penang", 22 Februari 2009. https://anilnetto.com/?p=8592
Redaksi Anekdot
Tentang Penulis

Redaksi Anekdot

Redaksi Anekdot. Cerita dari rumah sendiri: asal-usul budaya, kebiasaan, dan hal-hal sehari-hari yang membentuk kita.

Newsletter Anekdot

Cerita di balik kebiasaan kita, langsung ke emailmu.

Gratis. Setiap esai baru Anekdot dikirim ke kotak masukmu, lengkap dengan sumbernya.

Hampir selesai! Cek email kamu dan klik tautan konfirmasi.

Maaf, ada yang gagal. Coba lagi sebentar.

Menemukan kekeliruan? Kirim ke [email protected]. Baca Pedoman Editorial.

Baca juga