Kenapa Kucing di Indonesia Selalu Dipanggil 'Pus'? Jejak Bahasa Kolonial Poes

Panggilan pus bukan bahasa rahasia kucing, melainkan serapan dari kata Belanda 'poes'. Simak sejarah bagaimana panggilan juragan kolonial menjadi bahasa nasional kucing.

Bagikan
Kenapa Kucing di Indonesia Selalu Dipanggil 'Pus'? Jejak Bahasa Kolonial Poes

Di sudut gang, teras warung makan, atau trotoar jalanan Indonesia, siapa pun yang ingin mendekati seekor kucing kampung hampir selalu mengeluarkan bunyi desisan yang seragam:

"Pus... pus... pus..."

Ajaibnya, kucing di hadapan kita sering kali langsung menoleh, menegakkan telinga, dan mendekat seolah-olah memahami kode tersebut.

Pernahkah kamu bertanya-tanya, apakah bunyi "pus" itu adalah frekuensi suara alami yang memang dipahami oleh seluruh spesies kucing di bumi? Jawabannya: sama sekali bukan. Kucing di Jepang dipanggil "neko-neko", kucing di Turki dipanggil "pisi-pisi", dan kucing di Inggris dipanggil "kitty".

Panggilan "pus" di Indonesia ternyata adalah fosil bahasa peninggalan era kolonial Belanda.


1. Asal Usul Kata "Poes"

Di era Hindia Belanda, para nyonya dan tuan Belanda yang memelihara kucing di rumah-rumah dinas mereka sering memanggil peliharaan mereka dengan kata: "Poes" (ditulis P-O-E-S, namun diucapkan secara fonetik sebagai pus).

Dalam bahasa Belanda:

  • Poes berarti kucing betina atau panggilan sayang untuk kucing rumahan (pussycat).
  • Poesje adalah bentuk panggilan manja (diminutive) untuk anak kucing.

Masyarakat pribumi yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga, tukang kebun, dan kusir kereta di rumah-rumah kolonial setiap hari mendengar majikan mereka memanggil kucing dengan teriakan "poes... poes!".


2. Salah Sangka yang Berubah Jadi Mantra Nasional

Karena tidak mengerti tata bahasa Belanda, warga lokal mengira bahwa kata "poes" adalah mantra sakti atau nama resmi untuk memanggil hewan berbulu tersebut.

Lambat laun, kata serapan ini menular ke pasar-pasar, perkampungan rakyat, dan menyebar ke seluruh pelosok kepulauan Nusantara. Di kemudian hari, kata ini bahkan diserap secara resmi ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sebagai lema:

  • Pus /pus/ n: kata seru untuk memanggil kucing.

3. Kenapa Kucing Selalu Menoleh?

Lalu kenapa kucing di jalanan selalu merespons panggilan ini?

Secara sains biologi, telinga kucing sangat peka terhadap frekuensi suara berdesis tinggi (high-frequency sibilant sound) seperti huruf "S". Bunyi psss-psss menyerupai suara gemerisik daun atau gerakan tikus kecil di semak-semak yang secara alami memicu insting berburu mereka.


Catatan Redaksi

Sebuah kata dari tanah Eropa di abad kesembilan belas kini hidup abadi di saku celana dan bibir setiap pecinta kucing di warung pecel lele. Sejarah kolonial kita ternyata tidak hanya tertinggal di benteng dan gedung kuno, tapi juga di sapaan hangat kita kepada hewan jalanan.

📖 Rekomendasi Arsip Esai Selanjutnya: