Fenomena Antre Barang Mewah: Dari Pelabuhan Tanjung Priok 1890 Sampai Mall Senayan
Rela mengantre subuh membawa kursi lipat demi ponsel puluhan juta sering dicibir netizen. Namun arsip koran 1890 membuktikan warga Batavia dulu pernah melakukan hal serupa.
Pemandangan di sebuah pusat perbelanjaan di kawasan Senayan, Jakarta, sempat mendadak heboh. Dari jam empat subuh sebelum lobi dibuka, ratusan orang sudah terlihat mengular membawa kursi lipat dan tikar kecil.
Tujuannya cuma satu: menjadi pemilik pertama sebuah smartphone keluaran terbaru yang harganya berkisar belasan hingga tembus lebih dari tiga puluh juta rupiah.
Di media sosial, video antrean ini seketika viral dan memicu perdebatan panas. Kolom komentar dibanjiri cibiran: banyak yang heran kenapa di tengah keluhan ekonomi, orang-orang rela mengantre layaknya antrean sembako bansos demi barang cicilan.
Namun jika kita membuka arsip sejarah, fenomena rela berkorban berjam-jam demi barang impor mewah ini ternyata bukan penyakit baru anak muda zaman sekarang.
1. Demam Sepeda Ontel di Batavia (1890)
Tepat pada akhir abad kesembilan belas, surat kabar kolonial Bataviaasch Nieuwsblad merekam peristiwa sosial yang persis sama.
Waktu itu, warga kota Batavia berjubel dan berdesakan di dermaga Pelabuhan Tanjung Priok selama berhari-hari. Mereka bukan sedang mengantre bahan makanan pokok, melainkan berebut ingin melihat dan membeli sepeda modern impor pertama bermerek Rover yang baru turun dari kapal kargo Eropa.
Harga satu unit sepeda saat itu mencapai lima ratus gulden, setara dengan puluhan gram emas murni atau gaji berbulan-bulan pejabat tinggi. Siapa pun yang menunggangi sepeda impor di kawasan Gambir saat itu otomatis dinobatkan sebagai kasta sosial tertinggi di jalanan Batavia.
2. Teori Veblen Good: Benda Sebagai Tameng Sosial
Di ranah ilmu sosiologi dan ekonomi mikro, fenomena ini sudah dirumuskan sejak tahun 1899 oleh sosiolog Thorstein Veblen lewat konsep Conspicuous Consumption (Konsumsi Mencolok).
Barang-barang jenis ini disebut Veblen Good, yaitu barang yang dibeli bukan semata-mata karena fungsi teknisnya, melainkan karena nilai simbolisnya yang mampu memancarkan sinyal status ekonomi pemiliknya.
Di kota metropolitan sekeras Jakarta yang sangat anonim (tempat orang tidak saling mengenal silsilah keluarga atau kekayaan tanah di kampung halaman), manusia mencari jalan pintas komunikasi non-verbal:
- Benda yang melekat langsung di tubuh dan sering diletakkan di atas meja tongkrongan (seperti smartphone model terbaru) berfungsi sebagai alat pertahanan diri agar tidak dipandang sebelah mata dalam pergaulan kantor atau bisnis.
Catatan Redaksi
Ya mau bagaimana lagi, di pergaulan masyarakat kita hari ini, casing ponsel kadang dinilai lebih dulu daripada isi kepalanya.
Sebelum kita terlalu mudah mencibir mereka di kolom komentar, ada baiknya kita berkaca: bukankah kita semua pernah membeli sesuatu yang mahal hanya demi merasa aman dan diakui di tengah kerasnya pergaulan sosial kota?
📖 Rekomendasi Arsip Esai Selanjutnya:
- Priyayi Baru Bernama Sarjana: Mengapa Politisi Kita Haus Menumpuk Gelar di Baliho — Arkeologi feodalisme ijazah STOVIA 1900 sebagai simbol gengsi baru.
- Bukan Salah Kopi Susumu: Mengapa Kakek Kita Dulu Bisa Punya Rumah, Kita Cuma Studio 21m? — Menghitung rasio harga tanah vs gaji di tengah godaan gaya hidup konsumerisme.