Lebih Tua dari Indonesia: Kisah Tempe di Naskah Kuno Serat Centhini

Bukan sekadar lauk murah meriah, tempe adalah mahakarya bioteknologi kuno Nusantara yang tercatat di naskah Serat Centhini 1814. Mengapa kedelainya kini impor?

Bagikan
Lebih Tua dari Indonesia: Kisah Tempe di Naskah Kuno Serat Centhini

Di warung makan atau meja makan rumah, tempe sering kali dipandang sebagai lauk pendamping yang bersahaja dan murah meriah. Bahkan dalam pergaulan politik, kata tempe sering dilekatkan pada konotasi negatif lewat ejekan "mental tempe".

Padahal, secara historis dan sains pangan, tempe adalah satu-satunya produk fermentasi kedelai di dunia yang lahir murni dari kepulauan Nusantara, bukan turunan dari tradisi Tiongkok atau Jepang seperti kecap dan tahu.


1. Mahakarya Bioteknologi yang Lahir di Jawa

Sementara bangsa-bangsa di Asia Timur mengolah kedelai menggunakan air garam atau ragi cair, masyarakat Jawa berabad-abad lalu secara mandiri menjinakkan jamur Rhizopus oligosporus.

Hebatnya, fermentasi tempe tidak membutuhkan garam sama sekali. Jamur ini menembus biji kedelai yang direbus, merajutnya menjadi padatan putih padat beraroma khas, dan melipatgandakan nilai gizinya sehingga protein nabatinya jauh lebih mudah dicerna oleh usus manusia.

Di era ketika orang Eropa belum mengenal istilah protein dan vitamin, nenek moyang kita sudah menciptakan superfood nabati paling efisien di dunia tropis.


2. Jejak Tertulis di Serat Centhini (1814)

Kapan pertama kali tempe terdokumentasikan dalam arsip sejarah?

Jejaknya tertulis jelas dalam mahakarya sastra Jawa klasik, Serat Centhini, yang digubah pada tahun seribu delapan ratus empat belas oleh putra mahkota Keraton Surakarta (kelak Pakubuwana V).

Dalam kisah pengembaraan para tokohnya, tempe disebut berkali-kali sebagai hidangan terhormat:

  • Disebutkan hidangan sambal lethok (olahan tempe semangit khas Jawa Timur).
  • Disebutkan tempe bumbon yang disajikan kepada para tamu bangsawan dan santri.

Ini membuktikan bahwa tempe sudah eksis ratusan tahun sebelum Indonesia merdeka sebagai negara kesatuan pada tahun 1945.


3. Ironi Kedelai Hari Ini

Namun di balik kebanggaan sejarah itu, ada paradoks besar yang kita hadapi hari ini.

Meski ragi dan teknologi pembuatannya lahir di tanah Jawa, mayoritas kedelai yang kita konsumsi hari ini justru berasal dari impor ribuan kilometer di Amerika Serikat dan Amerika Latin.

Iklim tropis Indonesia dengan panjang siang hari 12 jam sebenarnya kurang ideal untuk produktivitas kedelai subtropis yang butuh panjang hari 14 hingga 16 jam. Ketergantungan impor ini membuat harga tempe di pasar becek sangat rentan terhadap fluktuasi nilai tukar dolar dan perang komoditas global.


Catatan Redaksi

Tempe bukan sekadar makanan pengganjal perut di akhir bulan. Ia adalah arsip kecerdasan sains pangan tertua yang diwariskan nenek moyang kita.

Mulai hari ini, saat kamu menyantap sepotong tempe goreng hangat, ingatlah: kamu sedang mengunyah sepotong peradaban yang usianya jauh lebih tua dari republik ini.

📖 Rekomendasi Arsip Esai Selanjutnya: