Kenapa Banyak Pasangan Asing Pesta Nikah di Bali, tapi Menikah Resminya di Negara Sendiri?
Bali kembali jadi destinasi pernikahan terbaik Asia. Tapi aturan nikah kita membuat banyak pasangan asing hanya membawa pulang fotonya, bukan akta nikahnya.
Banyak pasangan asing berpesta nikah di Bali tapi menikah resmi di negara sendiri karena hukum perkawinan Indonesia menuntut lebih dari sekadar janji di tepi pantai. Menurut UU Perkawinan, perkawinan sah bila dilakukan menurut hukum agama dan dicatat [1]. Kedutaan Australia menambahkan, kedua mempelai harus seagama [2]. Karena itu, situs pernikahan Australia menyarankan menikah resmi dulu di Australia [3].
Bali baru saja kembali dinobatkan sebagai Asia's Leading Wedding Destination 2026 oleh World Travel Awards. Bali mengalahkan Cebu, Ko Samui, dan Langkawi, dan pemenangnya diumumkan di Maladewa pada 27 September 2026 [4]. Tulisan ini tidak menilai aturan perkawinan kita. Kami menelusuri pertanyaan yang muncul di balik gelar itu: kalau Bali begitu populer untuk menikah, kenapa akta nikahnya sering dibuat di tempat lain?
Seberapa sering Bali menang?
Menurut catatan resmi World Travel Awards, Bali memenangi gelar destinasi pernikahan terbaik di Asia pada 2019, 2020, 2021, 2022, 2023, 2025, dan 2026. Satu-satunya tahun Bali kalah adalah 2024, ketika gelar itu jatuh ke Cebu, Filipina [4].
| Tahun | Destinasi Pernikahan Terbaik di Asia | Destinasi Paling Romantis di Asia |
|---|---|---|
| 2019–2023 | Bali | Bali |
| 2024 | Cebu, Filipina | Bali |
| 2025 | Bali | Bali |
| 2026 | Bali | Ko Samui, Thailand |
Tahun ini ada gelar yang lepas. Untuk kategori Asia's Most Romantic Destination, Bali menang tujuh tahun berturut-turut, 2019 sampai 2025, tetapi pada 2026 gelar itu jatuh ke Ko Samui, Thailand [5]. VnExpress mencatat kemenangan 2026 di kategori pernikahan sebagai yang ketujuh dalam delapan tahun [6].
Apa syarat menikah sah di Indonesia?
Pasal 2 UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan berbunyi: "Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu." Ayat berikutnya menyebut setiap perkawinan dicatat menurut peraturan yang berlaku [1].
Kedutaan Besar Australia di Jakarta menerjemahkan aturan ini untuk warganya. Menurut kedutaan, warga negara mana pun boleh menikah di Indonesia selama memeluk agama yang diakui pemerintah. Kedua pihak harus seagama; kalau tidak, salah satu harus pindah agama [2].
Untuk pernikahan non-Muslim, seperti Kristen atau Hindu, kedutaan menyebut pasangan harus melapor ke Kantor Catatan Sipil paling lambat 10 hari sebelum pernikahan. Setelah upacara, pernikahan harus didaftarkan ke Kantor Catatan Sipil agar sah. Warga Australia juga perlu Certificate of No Impediment to Marriage dari kedutaan atau konsulat, termasuk di Denpasar [2].
[Catatan Redaksi] Kedutaan Australia menyebut informasinya sebagai panduan umum dan meminta pasangan memastikan syarat terbaru ke Kantor Catatan Sipil setempat. Syarat bisa berbeda antardaerah.
Lalu bagaimana pasangan asing menyiasatinya?
Easy Weddings, situs pernikahan Australia, menyebut Bali sebagai salah satu lokasi paling populer bagi orang Australia yang menikah di luar negeri. Situs itu juga menyebut Indonesia mensyaratkan pasangan menganut salah satu agama yang diakui agar pernikahannya sah [3].
Jalan pintas yang mereka sarankan sederhana: menikah resmi lebih dulu di kantor catatan sipil di Australia, lalu terbang ke Bali untuk upacara simbolis. Menurut Easy Weddings, banyak pasangan bahkan merahasiakannya dari tamu, supaya perhatian tetap pada hari pernikahan di Bali [3].
Pola ini nyambung dengan hubungan panjang orang Australia dan Bali yang pernah kami tulis dalam kenapa orang Australia cinta Bali. Soal bagaimana pemerintah mengatur urusan hidup sehari-hari lewat hukum, kami juga pernah menelusuri aturan pajak yang membedakan beras dan pembalut.
Renungan Arkeologi Keseharian
Gelar destinasi pernikahan terbaik di Asia menjual pemandangan, upacara, dan foto. Status hukumnya, bagi banyak pasangan asing, diurus di tempat lain. Di situ terlihat bahwa menikah di Indonesia bukan hanya soal tempat yang indah, tetapi juga soal agama dan pencatatan negara, dua hal yang tidak bisa dibeli dalam paket pernikahan.
Sumber
- Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, Pasal 2 (teks di Wikisource bahasa Indonesia). https://id.wikisource.org/wiki/Undang-Undang_Republik_Indonesia_Nomor_1_Tahun_1974
- Kedutaan Besar Australia Indonesia, "Marriage in Indonesia" (diakses 30 Oktober 2026). https://indonesia.embassy.gov.au/jakt/MarriageInd.html
- Easy Weddings, "How do you get legally married in Bali for a destination wedding?", 5 Mei 2025. https://www.easyweddings.com.au/articles/destination-wedding-bali-legal-ceremony-info
- World Travel Awards, "Asia's Leading Wedding Destination 2026" (diakses 30 Oktober 2026). https://www.worldtravelawards.com/award-asias-leading-wedding-destination-2026
- World Travel Awards, "Asia's Most Romantic Destination 2026" (diakses 30 Oktober 2026). https://www.worldtravelawards.com/award-asias-most-romantic-destination-2026
- "Bali yet again named Asia's best wedding destination", VnExpress International. https://e.vnexpress.net/news/travel/places/bali-yet-again-named-asia-s-best-wedding-destination-5137434.html
Redaksi Anekdot
Redaksi Anekdot. Cerita dari rumah sendiri: asal-usul budaya, kebiasaan, dan hal-hal sehari-hari yang membentuk kita.
Cerita di balik kebiasaan kita, langsung ke emailmu.
Gratis. Setiap esai baru Anekdot dikirim ke kotak masukmu, lengkap dengan sumbernya.
Menemukan kekeliruan? Kirim ke [email protected]. Baca Pedoman Editorial.