Kenapa Bahasa Daerah di Maluku Paling Banyak Punah?

Di balik kekayaan linguistik kawasan timur, Maluku mencatat delapan bahasa punah, karena penuturnya sedikit dan bahasanya tak lagi diwariskan.

Redaksi Anekdot · 2 menit baca
Bagikan
Kenapa Bahasa Daerah di Maluku Paling Banyak Punah?

Maluku adalah provinsi dengan bahasa daerah punah terbanyak di Indonesia: menurut data Kemendikbudristek, delapan dari sebelas bahasa daerah yang dinyatakan punah berada di sana [1], [2]. Penjelasan Badan Bahasa sederhana: di wilayah timur Indonesia, jumlah bahasanya banyak, tetapi penuturnya sedikit [1].

Mengapa Bahasa Daerah di Wilayah Timur Begitu Rentan Punah?

Sekretaris Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa menerangkan bahwa situasi di wilayah timur Indonesia ini jumlah bahasa daerah banyak, namun penduduknya sedikit [1]. Kondisi tersebut bertolak belakang dengan wilayah barat Indonesia di mana jumlah bahasa daerahnya sedikit tetapi jumlah penduduknya padat [1].

Menurut catatan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, kepunahan tersebut disebabkan para penuturnya tidak lagi menggunakan dan mewariskan bahasa-bahasa daerah itu ke anak cucunya [1]. Selain itu, secara umum kepunahan dipicu oleh arus globalisasi yang mengarah ke monolingualisme, perkawinan silang antaretnis, serta migrasi dan mobilitas tinggi [2].

Bahasa Apa Saja di Maluku yang Dinyatakan Telah Punah?

Pada Maret 2024, Sekretaris Badan Bahasa kembali menegaskan bahwa rata-rata bahasa daerah yang punah berada di wilayah timur Indonesia [1]. Provinsi Maluku tercatat menjadi daerah yang paling banyak kehilangan bahasa daerah, yakni sebanyak delapan bahasa [2].

Deretan bahasa yang telah hilang dari peta tutur Maluku meliputi bahasa Kajeli atau Kayeli, bahasa Piru, bahasa Moksela, bahasa Palumata, bahasa Hukumina, bahasa Hoti, bahasa Serua, dan bahasa Nila [1], [2]. Di luar Maluku, bahasa lain yang punah adalah bahasa Ternateno di Maluku Utara, serta bahasa Tandia dan bahasa Mawes di tanah Papua [1], [2].

Salah satu bahasa yang punah, bahasa Nila, bernama sama dengan Pulau Nila, pulau gunung berapi di Laut Banda yang terakhir meletus pada 1968 [4]. Kami tidak menemukan sumber yang mengaitkan letusan itu dengan punahnya bahasa tersebut, jadi hubungan keduanya belum bisa dipastikan.

Menjaga kelestarian ratusan bahasa daerah ini membutuhkan ruang tutur yang hidup, sebagaimana semangat ikrar kebangsaan yang diulas dalam alasan teks asli Sumpah Pemuda menjunjung bahasa persatuan. Dinamika pergeseran makna kata antargenerasi juga dapat dibaca pada sejarah perkembangan kosakata dalam bahasa Indonesia.


Sumber

  1. detikEdu - Kemendikbud Ungkap 11 Bahasa Daerah di Indonesia Punah, Ini Deretannya
  2. CNN Indonesia - Data Kemdikbud: 11 Bahasa Daerah di Indonesia Punah, Maluku Terbanyak
  3. Wikipedia Bahasa Indonesia - Daftar Bahasa di Maluku
  4. Wikipedia Bahasa Indonesia - Gunung Nila
Redaksi Anekdot
Tentang Penulis

Redaksi Anekdot

Redaksi Anekdot. Cerita dari rumah sendiri: asal-usul budaya, kebiasaan, dan hal-hal sehari-hari yang membentuk kita.

Newsletter Anekdot

Cerita di balik kebiasaan kita, langsung ke emailmu.

Gratis. Setiap esai baru Anekdot dikirim ke kotak masukmu, lengkap dengan sumbernya.

Hampir selesai! Cek email kamu dan klik tautan konfirmasi.

Maaf, ada yang gagal. Coba lagi sebentar.

Menemukan kekeliruan? Kirim ke [email protected]. Baca Pedoman Editorial.

Baca juga