Kenapa Orang Australia Cinta Bali?

Satu dari empat turis asing di Bali berasal dari Australia. Kedekatan geografis, budaya selancar Kuta, dan bandara internasional jadi pemicunya.

Redaksi Anekdot · 1 menit baca
Bagikan
Kenapa Orang Australia Cinta Bali?
Peselancar di Pantai Kuta, Bali. Foto: Alex Victor, Wikimedia Commons (CC0).

Wisatawan Australia mendominasi kunjungan ke Bali: pada Juli 2026, Badan Pusat Statistik mencatat 174.539 kunjungan atau 25,01 persen dari seluruh wisatawan mancanegara [1]. Akar hubungannya panjang, salah satunya ombak: selancar sudah dikenal di Pantai Kuta sejak 1930-an, jauh sebelum Bali ramai turis [2].

Mengapa Kunjungan Turis Australia Mendominasi Pulau Dewata?

Dominasi turis asal Negeri Kanguru di Bali melampaui negara-negara lain dengan selisih yang sangat mencolok [1]. Pada periode pencatatan resmi Juli 2026, setelah Australia dengan 174.539 kunjungan, posisi kedua disusul Tiongkok dengan 59.029 kunjungan atau 8,46 persen [1].

Total kunjungan wisman ke Bali pada Juli 2026 mencapai 697.809, naik 15,34 persen dibanding Juni [1]. Artinya, kira-kira satu dari empat wisatawan asing yang datang bulan itu berpaspor Australia.

Bagaimana Ombak Pantai Kuta dan Bandara Ngurah Rai Membuka Pintu Wisata?

Keterikatan emosional Australia dengan Bali berakar pada olahraga selancar air di pesisir selatan [2], [4]. Catatan sejarah menunjukkan bahwa surfing di Pantai Kuta, Bali ternyata mulai dikenal luas sejak era tahun 1930-an [2]. Robert Bob Koke dan istrinya Louise Koke tiba di Bali pada tahun 1936 dan kemudian mendirikan penginapan legendaris Kuta Beach Hotel yang resmi beroperasi pada awal tahun 1937 [2]. Ketika papan selancar kayu tiba dari Hawaii, Bob Koke mulai mengajar selancar kepada anak-anak pantai Kuta, meletakkan fondasi tradisi bahari di pesisir tersebut [2].

Kedatangan wisatawan juga dimudahkan bandara. Proyek yang berlangsung tahun 1963–1969 diberi nama proyek bandara Tuban dan sekaligus sebagai persiapan internasionalisasi pelabuhan udara Tuban [3]. Proyek itu membangun terminal internasional dan memperpanjang landas pacu dari 1,2 km menjadi 2,7 km [3].

Hubungan Indonesia dengan negara lain sering tumbuh lewat hal sehari-hari: ombak bagi orang Australia, atau mi instan bagi orang Nigeria. Sementara itu, di sisi lain negeri, pembangunan besar juga memunculkan pertanyaan soal daya dukung alam, seperti rencana pusat data di Waduk Jatiluhur.


Sumber

  1. ANTARA Bali - BPS Catat Kunjungan Wisman ke Bali Baru Naik Secara Tahunan pada Bulan Juli
  2. detikTravel - Sejarah Surfing di Pantai Kuta Bali, Ternyata Sudah Ada Sejak 1930-an
  3. Wikipedia Bahasa Indonesia - Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai
  4. Wikipedia Bahasa Indonesia - Pantai Kuta
Redaksi Anekdot
Tentang Penulis

Redaksi Anekdot

Redaksi Anekdot. Cerita dari rumah sendiri: asal-usul budaya, kebiasaan, dan hal-hal sehari-hari yang membentuk kita.

Newsletter Anekdot

Cerita di balik kebiasaan kita, langsung ke emailmu.

Gratis. Setiap esai baru Anekdot dikirim ke kotak masukmu, lengkap dengan sumbernya.

Hampir selesai! Cek email kamu dan klik tautan konfirmasi.

Maaf, ada yang gagal. Coba lagi sebentar.

Menemukan kekeliruan? Kirim ke [email protected]. Baca Pedoman Editorial.

Baca juga