Kenapa Banyak Tukang Bakso Berasal dari Wonogiri?

Tanah kapur yang kering, waduk yang memindahkan puluhan ribu orang, dan jaringan keluarga perantau. Begini Wonogiri sampai ke gerobak bakso dekat rumah kita.

Redaksi Anekdot · 4 menit baca
Bagikan
Kenapa Banyak Tukang Bakso Berasal dari Wonogiri?
Pedagang bakso keliling mendorong gerobaknya. Foto: Agustinusraharjo, Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0).

Banyak tukang bakso berasal dari Wonogiri karena tanah kapurnya kering dan sulit ditanami, sehingga merantau sejak lama menjadi jalan hidup [1]. Menurut Dinas Tenaga Kerja Wonogiri pada 2019, sekitar 260 ribu warganya merantau, kira-kira seperempat penduduk [2]. Gerobak bakso menjadi pilihan karena modalnya kecil dan jaringannya sudah ada [3].

Pernah bertanya tukang bakso langgananmu asalnya dari mana? Banyak di antara mereka datang dari Wonogiri, kabupaten di ujung tenggara Jawa Tengah. Di kota-kota besar, pedagang bakso asal Wonogiri banyak bermunculan, sampai dikenal dengan sebutan Bakso Wonogiri [3].

Wonogiri sendiri bangga dengan julukan itu. Dalam Festival Mi Ayam Bakso Wonogiri 2026 di Alun-Alun Giri Krida Bhakti pada 3-4 Juli 2026, kabupaten ini mendeklarasikan diri sebagai Ibu Kota Mi Ayam Bakso, sambil memecahkan rekor MURI dengan menyajikan 5.555 porsi mi ayam bakso gratis [8]. Tulisan ini menelusuri bagaimana itu bisa terjadi.

Kenapa orang Wonogiri harus pergi?

Sebagian besar Wonogiri berupa tanah kering dan pegunungan kapur yang sulit ditanami. Saat kemarau, wilayah ini kerap kekeringan [1]. Pertanian yang bergantung pada hujan tidak cukup untuk menghidupi semua orang.

Menurut sejarawan kuliner Heri Priyatmoko, yang diwawancarai Mojok, perantauan sudah terjadi di masa kolonial, ketika Solo tumbuh menjadi kota besar. Banyak perantau Wonogiri bekerja di warung mi milik pedagang Tionghoa di Pasar Gede, dan dari situ belajar membuat mi [4]. Setelah kemerdekaan, tujuan perantau bergeser ke Jakarta [7].

Apa hubungannya dengan waduk?

Pada 1976, pemerintah mulai membangun Waduk Gajah Mungkur di Wonogiri untuk menahan banjir Bengawan Solo, mengairi sawah, dan membangkitkan listrik. Waduk itu diresmikan Presiden Soeharto pada 17 November 1981 [1]. Proyek ini bagian dari dorongan besar pembangunan irigasi era itu, yang juga kami ceritakan dalam kisah swasembada beras 1984.

Harganya dibayar warga di dasar lembah. Menurut Harian Suara Karya edisi 16 November 1981, yang dikutip dalam kajian sejarah di jurnal Histma UGM, penduduk dari 51 desa, sekitar 12.500 kepala keluarga atau 68.750 jiwa, dipindahkan ke Sumatra lewat transmigrasi [1].

Tujuan transmigrasi warga genangan (1981) Kepala keluarga
Bengkulu 4.096
Sumatera Barat 3.200
Jambi 1.924
Sumatera Selatan 489

Mojok mencatat, hasrat merantau orang Wonogiri makin besar setelah proyek waduk berjalan pada akhir 1970-an, ditambah dorongan program transmigrasi Orde Baru [7].

[Catatan Redaksi] Kami tidak menemukan data yang menghubungkan langsung warga genangan waduk dengan profesi pedagang bakso. Yang tercatat: waduk memindahkan puluhan ribu orang, dan menurut sejarawan, gelombang merantau membesar di periode yang sama.

Kenapa jualan bakso, bukan yang lain?

Bakso sendiri lahir dari pertemuan dapur. Menurut sejarawan Fadly Rahman dalam Jejak Rasa Nusantara, sebagaimana dikutip CNBC Indonesia, namanya berasal dari bahasa Hokkien bak-so yang berarti daging giling. Di Tiongkok ia dibuat dari daging babi, dan di Indonesia berganti menjadi daging sapi [5].

Para perantau Wonogiri di Jakarta banyak yang mula-mula bekerja di warung mi milik orang Tionghoa, lalu membuka gerobak sendiri [7]. Kepala Dusun Kutukan di Girimarto, Kasno, bercerita kepada Mojok bahwa perantau dari kampungnya umumnya berjualan bakso dan mi ayam, sementara para istri berjualan jamu [7].

Penelitian di Desa Karang Duren, Girimarto, menjelaskan kenapa pola itu bertahan. Warga di sana merantau dan berdagang bakso sejak 1980-an, turun-temurun. Alasan yang paling sering muncul: ikut perantau yang lebih dulu berangkat, melihat keberhasilan mereka, meneruskan usaha orang tua, serta modal yang kecil dan keterampilan yang bisa dipelajari [3]. Separuh perantau desa itu menuju Jakarta, sisanya ke Bandung, Purwakarta, dan Subang [3].

Artinya, yang menyebar bukan cuma resep, tetapi juga jaringan: satu keluarga menarik keluarga lain, satu gerobak melatih calon pemilik gerobak berikutnya. Pola makanan yang ikut perantau seperti ini juga terlihat pada Indomie yang sampai ke Nigeria.

Apa yang tersisa di kampung?

Di Desa Bubakan, Girimarto, rumah-rumah bertingkat milik perantau banyak yang kosong sepanjang tahun. Penghuninya pulang tiga sampai empat bulan sekali, dan baru menempatinya saat pensiun [6]. Setelah krisis moneter 1998, sebagian perantau pulang dan membuka warung mi ayam di kampung sendiri [7].

Renungan Arkeologi Keseharian

Semangkuk bakso di pinggir jalan ternyata membawa banyak cerita: tanah kapur yang kering, puluhan desa yang tenggelam, dapur Tionghoa tempat orang belajar, dan keluarga yang saling menarik ke kota. Makanan yang kita anggap paling biasa ini lahir dari pertemuan dan kerja keras orang-orang yang pergi jauh dari rumah.


Sumber

  1. Reynata Diva Vanessa, "Pemanfaatan Waduk Gadjah Mungkur di Wonogiri Tahun 1976-1992", Histma (Departemen Sejarah UGM), vol. 9 no. 1, hlm. 37-48. https://journal.ugm.ac.id/v3/histma/article/download/14037/4345
  2. Aris Arianto, "Libur Lebaran Usai, Warga Wonogiri Ramai-ramai Pergi Merantau", detikNews, 12 Juni 2019. https://news.detik.com/berita-jawa-tengah/d-4583285/libur-lebaran-usai-warga-wonogiri-ramai-ramai-pergi-merantau
  3. Devi Sulistyani, "Identifikasi Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Budaya Merantau Pedagang Bakso di Desa Karang Duren Kecamatan Girimarto Kabupaten Wonogiri", naskah publikasi skripsi, Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2021. https://eprints.ums.ac.id/94586/1/Devi%20Sulistyani_A210170207_NASKAH%20PUBLIKASI.pdf
  4. Ahmad Effendi, "Sejarah Mie Ayam Wonogiri: Ketika Kaum Boro Mendapatkan Resep dari Orang-Orang Tionghoa di Jakarta", Mojok, 7 November 2023. https://mojok.co/liputan/sejarah-mie-ayam-wonogiri/
  5. MFakhriansyah, "Alternatif Bosan Menu Lebaran, Ternyata Bakso Makanan Impor", CNBC Indonesia, 24 April 2023. https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20230417092008-33-430472/alternatif-bosan-menu-lebaran-ternyata-bakso-makanan-impor
  6. Hammam Izzuddin, "Menelusuri Desa Bubakan, Saksi Kesuksesan Penjual Mie Ayam Wonogiri yang Menolak Anggapan Kampung Miliarder", Mojok, 7 November 2023. https://mojok.co/liputan/desa-bubakan-saksi-kesuksesan-penjual-mie-ayam-wonogiri/
  7. Ahmad Effendi, "Sejarah Mie Ayam Wonogiri" (halaman 2), Mojok, 7 November 2023. https://mojok.co/liputan/sejarah-mie-ayam-wonogiri/2/
  8. Anggara Wikan Prasetya, "Wonogiri Deklarasikan Diri sebagai Ibu Kota Mi Ayam Bakso, Sajikan 5.555 Porsi Gratis dan Pecahkan Rekor Muri", Kompas.com, 5 Juli 2026. https://www.kompas.com/food/read/2026/07/05/193100275/wonogiri-deklarasikan-diri-sebagai-ibu-kota-mi-ayam-bakso-sajikan-5.555
Redaksi Anekdot
Tentang Penulis

Redaksi Anekdot

Redaksi Anekdot. Cerita dari rumah sendiri: asal-usul budaya, kebiasaan, dan hal-hal sehari-hari yang membentuk kita.

Newsletter Anekdot

Cerita di balik kebiasaan kita, langsung ke emailmu.

Gratis. Setiap esai baru Anekdot dikirim ke kotak masukmu, lengkap dengan sumbernya.

Hampir selesai! Cek email kamu dan klik tautan konfirmasi.

Maaf, ada yang gagal. Coba lagi sebentar.

Menemukan kekeliruan? Kirim ke [email protected]. Baca Pedoman Editorial.

Baca juga