Bukan Rendang atau Nasi Goreng: Bagaimana Indomie Merebut Lidah Nigeria
Diperkenalkan sejak 1988, Indomie berhasil merajai pangsa pasar mi instan di Nigeria hingga dianggap seperti makanan lokal oleh jutaan warganya.
Indomie menjadi fenomena pangan yang sangat populer di Nigeria berkat ekspansi awal tahun 1988 dan pendirian pabrik lokal yang menyesuaikan produk dengan selera setempat [1], [3], [4]. Di negara berpenduduk terbesar di Afrika tersebut, Indomie menguasai sekitar 70 persen pangsa pasar mi instan hingga melekat kuat dalam pola konsumsi harian masyarakat [1].
Kapan Indomie Pertama Kali Masuk ke Pasar Nigeria?
Indomie lahir di Indonesia pada tahun 1972 ketika Djajadi Djaja memproduksinya melalui Sanmaru Food Manufacturing [2]. Pada dekade 1980-an, kepemilikan merek ini beralih ke Salim Group yang memperluas jaringan distribusinya ke pasar global [2].
Produk mi instan ini pertama kali diperkenalkan ke Nigeria pada tahun 1988 melalui kegiatan ekspor yang dirintis oleh Tolaram Group [3], [4].
Mengapa Indomie Dianggap Seperti Makanan Sendiri oleh Warga Nigeria?
Langkah besar berikutnya adalah memproduksi mi langsung di Nigeria. Pada 1995, Indomie membuka pabrik pertamanya di sana di bawah Dufil Prima Foods. Pabrik itu adalah pabrik mi instan pertama di Nigeria dan disebut yang terbesar di Afrika [4].
Detik melaporkan salah satu penjualan terbesar Indomie ada di Nigeria, dengan pangsa pasar 70 persen [1]. Menurut Direktur Indofood Franciscus Welirang, rahasianya ada pada kepraktisan, ditambah varian rasa yang dibuat khusus untuk pasar di sana [1].
Makanan dari Indonesia yang menyeberang jauh bukan hanya Indomie; ada juga cerita panjang sejarah rendang Minangkabau. Eksplorasi tradisi kuliner lokal lainnya dapat ditelusuri pada jejak sejarah tempe dalam naskah kuno Serat Centhini. Cerita sebaliknya, ketika orang asing jatuh hati pada Indonesia, bisa dibaca di kenapa orang Australia cinta Bali.
Sumber
Redaksi Anekdot
Redaksi Anekdot. Cerita dari rumah sendiri: asal-usul budaya, kebiasaan, dan hal-hal sehari-hari yang membentuk kita.
Cerita di balik kebiasaan kita, langsung ke emailmu.
Gratis. Setiap esai baru Anekdot dikirim ke kotak masukmu, lengkap dengan sumbernya.
Menemukan kekeliruan? Kirim ke [email protected]. Baca Pedoman Editorial.