Ilusi Awan di Waduk Jatiluhur: Mengapa Komputer Server AI Haus Jutaan Liter Air dan Setrum Raksasa?
Di balik kemudahan komputasi awan, server AI membutuhkan jutaan liter air pendingin waduk dan pasokan listrik raksasa agar tidak kepanasan.
Pusat data AI Waduk Jatiluhur senilai Rp3,5 triliun dihentikan sementara oleh Gubernur Jawa Barat karena dokumen perizinannya belum terpenuhi [2]. Pada tahap pengembangan berikutnya, proyek ini diperkirakan butuh air 384 liter per detik dari Waduk Jatiluhur [1], waduk yang juga mengairi sekitar 240.000 hektare sawah [3].
Setiap instruksi digital yang diketikkan ke dalam aplikasi kecerdasan buatan kerap memunculkan anggapan bahwa internet bekerja di ruang awan tanpa jejak fisik. Padahal, pemrosesan algoritma skala besar bersandar pada mesin fisik yang menuntut pasokan energi listrik dan air tawar secara terus-menerus.
Mengapa Server Komputasi AI Membutuhkan Air Pendingin?
Untuk mencegah panas berlebih, fasilitas komputasi modern mengalirkan cairan pendingin langsung ke lempeng prosesor [1]. Untuk proyek di Jatiluhur, kebutuhan airnya diperkirakan mencapai 384 liter per detik atau sekitar 33 ribu meter kubik per hari, setara lebih dari 12 juta meter kubik per tahun [1].
Fasilitas data center BDx di kawasan Jatiluhur direncanakan memiliki kapasitas daya hingga 640 megawatt [1]. Kompleks komputasi berskala masif tersebut berjarak sekitar lima kilometer dari Waduk Jatiluhur [1]. Besarnya kebutuhan sumber daya energi dan air di lokasi inilah yang memicu kekhawatiran masyarakat sekitar terhadap keberlanjutan pasokan air bersih.
Bagaimana Pengaruhnya terhadap Pasokan Air Warga dan Petani?
Waduk Jatiluhur memegang fungsi vital yang tidak tergantikan bagi ketahanan pangan dan kebutuhan air minum di Jawa Barat serta Jakarta. Waduk ini menyediakan air irigasi untuk 240.000 hektare sawah dua kali tanam setahun, selain air baku, air minum, dan pengendali banjir [3].
Secara teknis hidrologi, bendungan ini mengalirkan pasokan air menuju tiga saluran irigasi, yakni Tarum Timur, Tarum Barat, dan Tarum Utara [3]. Tekanan ketersediaan air bersih di daerah hilir ini memiliki keterkaitan erat dengan persoalan penataan ruang yang dibahas dalam sejarah tata air Batavia dan penurunan tanah Jakarta.
Karena itu IESR meminta proyek ini menjalani kajian lingkungan dan energi secara menyeluruh sebelum pembangunan dilanjutkan [1]. Pertanyaannya mirip dengan soal rumah bagi generasi muda: siapa yang didahulukan ketika sumber daya terbatas.
Karena kekhawatiran dampak lingkungan tersebut, pemerintah mengambil tindakan administratif tegas. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menghentikan sementara pembangunan pusat data AI milik BDx Indonesia karena proyek belum merampungkan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) [2]. Ketegasan izin lingkungan ini menjadi pengingat bahwa kemajuan teknologi digital tidak boleh mengabaikan daya dukung bumi tempat fasilitas tersebut berpijak.
Sumber
Redaksi Anekdot
Redaksi Anekdot. Cerita dari rumah sendiri: asal-usul budaya, kebiasaan, dan hal-hal sehari-hari yang membentuk kita.
Cerita di balik kebiasaan kita, langsung ke emailmu.
Gratis. Setiap esai baru Anekdot dikirim ke kotak masukmu, lengkap dengan sumbernya.
Menemukan kekeliruan? Kirim ke [email protected]. Baca Pedoman Editorial.