Rokok atau Telur? Membaca Angka BPS tentang Isi Belanja Keluarga Indonesia

Rokok Rp94 ribu, daging plus telur dan susu cuma Rp85 ribu per orang sebulan. Membaca data Susenas BPS tentang ke mana sebenarnya uang belanja keluarga Indonesia mengalir.

Redaksi Anekdot · 6 menit baca
Bagikan
Telur ayam ras di atas rak karton (Sumber: Wasil aziz / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0)
Telur ayam ras, salah satu sumber protein termurah di Indonesia (Sumber: Wasil aziz / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0).

Di banyak warung kelontong, rokok dan telur dijual di etalase yang sama. Telur ditumpuk di rak karton, rokok dipajang di lemari kaca dekat kasir. Yang satu lauk, yang satu kebiasaan. Tapi kalau kita membuka data Badan Pusat Statistik (BPS), urutan prioritas belanja keluarga Indonesia ternyata tidak seperti yang dibayangkan banyak orang.

Tulisan ini tidak bermaksud menghakimi perokok. Yang ingin kami telusuri adalah sesuatu yang lebih sehari-hari: ke mana sebenarnya uang belanja keluarga mengalir, dan kenapa satu barang yang bukan makanan bisa duduk di urutan kedua setelah beras.


1. Nomor Dua Setelah Beras

Setiap Maret dan September, BPS menghitung garis kemiskinan, yaitu nilai pengeluaran minimum yang dibutuhkan seseorang untuk memenuhi kebutuhan dasar. Pada Maret 2026, angkanya Rp669.235 per orang per bulan. Data dasarnya berasal dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang, uniknya, dikumpulkan pada Februari 2026 karena bulan Maret bertepatan dengan Ramadan dan Lebaran yang mengubah pola belanja rumah tangga [1].

Garis itu disusun dari sekeranjang barang yang benar-benar dibeli oleh penduduk di sekitar garis kemiskinan. BPS lalu melaporkan berapa porsi tiap barang dalam nilai garis tersebut. Hasilnya untuk Maret 2026 [1]:

Komoditas Perkotaan Perdesaan
Beras 20,52% 24,60%
Rokok kretek filter 10,83% 10,18%
Telur ayam ras 4,69% 3,73%
Daging ayam ras 4,42% 3,08%
Kopi bubuk dan kopi instan 2,48% 2,36%
Mi instan 2,44% 2,09%

Rokok kretek filter berada di urutan kedua, baik di kota maupun di desa. Porsinya lebih dari dua kali porsi telur ayam: 2,3 kali di perkotaan dan 2,7 kali di perdesaan. Bahkan jika telur dan daging ayam digabung, totalnya (9,11% di kota, 6,81% di desa) masih kalah dari rokok.

Ini bukan anomali satu periode. Setahun sebelumnya, pada Maret 2025, rokok kretek filter juga berada di urutan kedua dengan porsi 10,72% di perkotaan dan 9,99% di perdesaan [2].


2. Bukan Hanya di Garis Kemiskinan

Pola yang sama muncul ketika kita melihat seluruh penduduk, bukan hanya mereka yang dekat garis kemiskinan. Menurut publikasi BPS Pengeluaran untuk Konsumsi Penduduk Indonesia Maret 2026 yang dirilis 5 Oktober 2026, rata-rata belanja rokok dan tembakau mencapai Rp94.180 per orang per bulan [3].

Bandingkan dengan: - daging: Rp40.352 - telur dan susu: Rp44.915 - daging, telur, dan susu digabung: Rp85.267

Secara nasional, belanja rokok dan tembakau masih lebih besar sekitar Rp8.900 dibanding gabungan ketiganya [3].

Di perdesaan, selisihnya jauh lebih mencolok. Warga desa rata-rata membelanjakan Rp100.951 per bulan untuk rokok dan tembakau, sementara daging hanya Rp31.744 dan telur plus susu Rp34.596 [3]. Belanja rokok di desa sekitar satu setengah kali gabungan daging, telur, dan susu. Rokok dan tembakau menyedot 7,84 persen dari seluruh pengeluaran warga desa, hampir dua kali porsinya di kota (4,71 persen) [3].

Polanya tidak sama di semua tempat. Di perkotaan, gabungan daging, telur, dan susu (Rp97.838) masih sedikit lebih besar dari belanja rokok (Rp89.683) [3]. Artinya, beban rokok paling terasa justru di desa, tempat pendapatan rata-rata lebih rendah.

Ada satu hal yang sering terlewat saat membaca angka ini. Rp94.180 adalah rata-rata per kepala, termasuk anak-anak, lansia, dan orang yang tidak merokok sama sekali. Artinya, di rumah tangga yang memang ada perokoknya, uang yang keluar untuk rokok jauh lebih besar dari angka rata-rata itu.


3. Kenapa Rokok Dihitung sebagai "Makanan"?

Warung makan dan kelontong yang juga menjual rokok
Di warung, rokok dan lauk dijual berdampingan. Di data BPS, keduanya juga masuk kelompok yang sama (Sumber: SATELITBM / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0).

Banyak orang kaget mengetahui bahwa rokok masuk ke kelompok makanan dalam perhitungan BPS. Alasannya bukan karena rokok bergizi. Garis kemiskinan makanan dihitung dari pola belanja nyata: paket 52 jenis komoditas yang disetarakan dengan kebutuhan 2.100 kilokalori per orang per hari [4]. Karena rokok memang dibeli secara rutin, ia ikut masuk keranjang.

Di sini kita perlu hati-hati membaca. Angka 10,83% tidak berarti rokok menyebabkan kemiskinan sebesar 10,83%. Angka itu menunjukkan seberapa besar porsi rokok dalam pola belanja minimum, bukan seberapa besar rokok membuat orang jatuh miskin [5]. Yang dipotret adalah kebiasaan, bukan sebab-akibat.

[Catatan Redaksi]
Sebagian pengamat mengkritik metodologi ini karena memasukkan barang yang merusak kesehatan ke dalam ukuran "kebutuhan dasar". Di sisi lain, mengeluarkan rokok dari keranjang justru bisa membuat garis kemiskinan tidak mencerminkan belanja nyata warga. Kami mencatat perdebatan ini tanpa memihak salah satunya.

4. Ke Mana Larinya Uang Lauk?

Kalau uang belanja terbatas, setiap rupiah untuk rokok adalah rupiah yang tidak dipakai untuk hal lain. Pertanyaannya: apa yang dikorbankan?

Salah satu penelitian terbesar soal ini dilakukan oleh Richard Semba dan rekan-rekannya, terbit di jurnal Public Health Nutrition tahun 2007 [6]. Mereka menganalisis data 175.583 rumah tangga di kawasan kumuh perkotaan Indonesia. Hasilnya: - 73,8% ayah dalam sampel merokok. - Rumah tangga dengan ayah perokok menghabiskan rata-rata 22% pengeluaran mingguan per kapita untuk tembakau, dan membelanjakan lebih sedikit untuk makanan. - Anak dari ayah perokok memiliki peluang stunting sedikit lebih tinggi, bahkan setelah memperhitungkan pendapatan dan pendidikan orang tua.

Penelitian Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS-UI) tahun 2018, yang dipimpin Teguh Dartanto dan memakai data panel Indonesia Family Life Survey, menemukan pola serupa. Menurut pemberitaan, peluang stunting pada anak dari keluarga perokok sekitar 5,5 poin persen lebih tinggi, dan anak dari orang tua perokok berat rata-rata 1,5 kilogram lebih ringan [7, 8].

[Catatan Redaksi: Status Sumber]
Angka PKJS-UI kami kutip dari pemberitaan media, bukan dari laporan aslinya, dan angka tinggi badan berbeda antarmedia (0,34 cm atau 1,3 cm). Kedua penelitian di atas menunjukkan hubungan (korelasi), dan para penelitinya menduga pengalihan uang dari makanan ke rokok sebagai salah satu jalurnya. Itu bukan bukti bahwa setiap anak perokok pasti kekurangan gizi.

5. Kenapa Sulit Dilepas?

Jawaban paling sederhana sering terdengar menghakimi: "Kalau tahu mahal, ya berhenti saja." Kenyataannya tidak semudah itu.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut nikotin sebagai zat yang sangat adiktif [9]. Bagi perokok yang sudah kecanduan, rokok tidak lagi terasa seperti pilihan, melainkan kebutuhan yang harus dipenuhi sebelum hal lain. Itu sebabnya belanja rokok cenderung bertahan, bahkan ketika harga naik dan pendapatan seret.

Ongkosnya juga tidak berhenti di dompet. WHO mencatat tembakau membunuh lebih dari tujuh juta orang setiap tahun di seluruh dunia, termasuk sekitar 1,6 juta orang yang tidak merokok tetapi terpapar asapnya [9].


Renungan Arkeologi Keseharian

Rokok dan telur dijual di warung yang sama, kadang dibeli dengan uang kembalian yang sama. Yang membedakan keduanya bukan harganya, tetapi cara keduanya menempati pikiran: telur adalah lauk yang bisa ditunda, rokok adalah kebiasaan yang terasa tidak bisa ditunda.

Data BPS tidak menyalahkan siapa pun. Ia hanya mencatat apa yang benar-benar kita beli. Dan catatan itu menunjukkan bahwa, di banyak rumah tangga Indonesia, yang dikalahkan oleh sebatang rokok sering kali adalah sebutir telur.

Bagian dari Seri Rokok (2 dari 5). Episode lain: #1 Asal-usul kretek di Kudus · #3 Rokok di pesantren · #4 Cukai rokok dan APBN · #5 Marlboro vs kretek


Daftar Sumber & Rujukan

  1. Badan Pusat Statistik (5 Agustus 2026). Berita Resmi Statistik "Profil Kemiskinan di Indonesia Maret 2026" (Tabel 4 dan Penjelasan Teknis). https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2026/08/05/2594/persentase-penduduk-miskin-maret-2026-turun-menjadi-8-07-persen-.html
  2. Republika (25 Juli 2025). "BPS: Rokok Jadi Kontributor Kedua Terbesar Garis Kemiskinan." https://ekonomi.republika.co.id/berita/szxvad370/bps-rokok-jadi-kontributor-kedua-terbesar-garis-kemiskinan
  3. Badan Pusat Statistik (5 Oktober 2026). Pengeluaran untuk Konsumsi Penduduk Indonesia Maret 2026, Tabel 3.1 dan 3.2. https://www.bps.go.id/id/publication/2026/10/05/4e167126f0dc9e67c8e602b2/pengeluaran-untuk-konsumsi-penduduk-indonesia-maret-2026.html
  4. Badan Pusat Statistik. Penjelasan Teknis dalam Berita Resmi Statistik Profil Kemiskinan Maret 2026 (lihat [1]): GKM setara 2.100 kkal per kapita per hari, paket 52 jenis komoditas.
  5. IDN Research Institute. "Produksi Rokok Turun dan Pergeseran Konsumen." https://www.idnresearchinstitute.com/society/produksi-rokok-turun-ke-mana-konsumen-berpindah-00-314l1-t66bfk
  6. Semba, R. D., dkk. (2007). "Paternal smoking is associated with increased risk of child malnutrition among poor urban families in Indonesia." Public Health Nutrition 10(1). https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/17212837/
  7. Dartanto, T., dkk. (2018). Perilaku Merokok Orang Tua dan Dampaknya terhadap Stunting, Kecerdasan, dan Kemiskinan: Bukti Empiris dari Data Panel IFLS. PKJS-UI. Diberitakan Liputan6.com. https://www.liputan6.com/health/read/3569121/orangtua-perokok-bisa-bikin-anak-lahir-pendek-dan-bodoh [Belum dibaca langsung]
  8. Kontan. "Konsumsi rokok orang tua menyebabkan anak stunting." https://kesehatan.kontan.co.id/news/konsumsi-rokok-orang-tua-menyebabkan-anak-stunting
  9. WHO. "Tobacco and nicotine" (lembar fakta). https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/tobacco
Redaksi Anekdot
Tentang Penulis

Redaksi Anekdot

Redaksi Anekdot. Cerita dari rumah sendiri: asal-usul budaya, kebiasaan, dan hal-hal sehari-hari yang membentuk kita.

Newsletter Anekdot

Cerita di balik kebiasaan kita, langsung ke emailmu.

Gratis. Setiap esai baru Anekdot dikirim ke kotak masukmu, lengkap dengan sumbernya.

Hampir selesai! Cek email kamu dan klik tautan konfirmasi.

Maaf, ada yang gagal. Coba lagi sebentar.

Menemukan kekeliruan? Kirim ke [email protected]. Baca Pedoman Editorial.

Baca juga