Puas, Tapi Kok Dapur Bilang Lain? Membaca Angka Survei Dua Tahun Pemerintahan

Survei bilang mayoritas puas, tapi kepuasan soal ekonomi tak sampai 37 persen. Cara membaca rapor dua tahun pemerintahan tanpa berhenti di angka judul berita.

Redaksi Anekdot · 4 menit baca
Bagikan
Kios beras di Pasar Induk Pare, Kediri (Sumber: Wikimedia Commons, CC BY 4.0)
Kios beras di Pasar Induk Pare, Kediri. Harga kebutuhan pokok menjadi keluhan paling mendesak dalam survei Oktober 2026 (Sumber: Wikimedia Commons).

Menjelang dan sesudah 20 Oktober 2026, saat pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka genap berusia dua tahun, lembaga survei bergantian merilis rapor. Parameter Politik Indonesia (PPI) mencatat 65,4 persen publik puas terhadap kinerja pemerintah [1]. Poltracking Indonesia mencatat 55,3 persen [2]. Survei Universitas Hasanuddin yang khusus memotret Indonesia Timur mencatat 51 persen [3].

Tiga angka, bulan yang sama, negara yang sama. Selisihnya bisa mencapai sepuluh poin lebih.

Tulisan ini tidak hendak menilai apakah pemerintah berhasil atau gagal. Itu tugas pembaca. Yang ingin kami telusuri adalah sesuatu yang lebih sehari-hari: kebiasaan kita membaca survei hanya dari angka paling besar di judul berita, padahal cerita sebenarnya sering tersimpan di tabel-tabel kecil di bawahnya.


1. Angka Utama dan Angka yang Tersembunyi

Survei Poltracking dilakukan pada 30 September hingga 7 Oktober 2026 terhadap 1.220 responden di 38 provinsi, melalui wawancara tatap muka, dengan margin of error sekitar 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen [2]. Angka utamanya, 55,3 persen puas, nyaris tidak bergerak dari survei Agustus (55,1 persen) [4].

Namun ketika kepuasan dipecah ke tujuh bidang, gambarnya menjadi jauh lebih beragam [5]:

Bidang Puas Tidak puas
Pendidikan 66,3% 27,6%
Pertahanan dan Keamanan 63,7% 25,5%
Sosial Budaya 63,7% 22,4%
Kesehatan 62,1% 32,4%
Politik dan Stabilitas Nasional 53,6% 32,0%
Hukum dan Pemberantasan Korupsi 43,1% 47,5%
Ekonomi 36,8% 57,8%

Bidang ekonomi berada di urutan paling bawah. Di survei yang sama, 45,9 persen responden menyebut mahalnya harga kebutuhan pokok sebagai masalah paling mendesak, jauh di atas sulitnya mencari kerja (9,3 persen) dan pemberantasan korupsi (8,9 persen) [2]. Sebanyak 58,6 persen mengaku harga kebutuhan pokok tidak terjangkau dalam sebulan terakhir [4]. Pengendalian harga pangan hanya dinilai berhasil oleh 31,3 persen responden [2].

Program unggulan pun tidak seragam. Makan Bergizi Gratis dikenal oleh 92,4 persen responden, tetapi penilaiannya terbelah: 47,4 persen puas dan 49,5 persen tidak puas [2].

Jadi kalimat "mayoritas publik puas" dan kalimat "mayoritas publik tidak puas soal ekonomi" bisa sama-sama benar, dari satu survei yang sama.


2. Puas Tidak Sama dengan Percaya

Poltracking juga memisahkan dua pertanyaan yang sering dianggap sama. Tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintah tercatat 64,8 persen, lebih tinggi sembilan poin dari tingkat kepuasan kinerja (55,3 persen) [2].

Bedanya sederhana tapi penting. Kepuasan menilai apa yang sudah terjadi. Kepercayaan menilai harapan terhadap apa yang akan dilakukan. Seseorang bisa kecewa dengan harga beras bulan ini, tetapi tetap percaya pemerintah akan membereskannya. Ketika dua angka ini dilaporkan dengan satu kata yang sama, "dukungan", pembaca kehilangan nuansa itu.


3. Courtesy Bias: Ketika Responden Menjawab dengan Sopan

Para peneliti survei mengenal gejala yang disebut courtesy bias: kecenderungan responden memberi jawaban yang terdengar sopan atau menyenangkan bagi pewawancara, alih-alih pendapat pribadinya [6]. Istilah ini kerap dikaitkan dengan tulisan E. L. Jones tentang survei di Asia Tenggara pada tahun 1963 [7]. Literatur yang lebih baru menyebut gejala serupa lebih kuat di masyarakat yang menjunjung harmoni sosial dan menjaga muka, terutama dalam wawancara tatap muka [6].

Apakah ini menjelaskan jarak antara angka kepuasan umum dan kepuasan ekonomi? Kami tidak bisa memastikannya, dan tidak ada data dalam rilis tersebut yang membuktikannya. Yang bisa kami katakan: menilai "pemerintah" adalah pertanyaan tentang sosok dan lembaga yang abstrak, sementara menilai harga beras adalah pertanyaan tentang pengalaman yang dirasakan langsung di dapur sendiri. Dua jenis pertanyaan ini wajar memancing jawaban dengan nada yang berbeda.

[Catatan Redaksi]
Courtesy bias berlaku untuk semua survei tatap muka, bukan hanya survei tentang pemerintah. Kami menyajikannya sebagai alat bantu membaca, bukan sebagai bukti bahwa angka tertentu terlalu tinggi atau terlalu rendah.

4. Kenapa Antarlembaga Bisa Selisih Sepuluh Poin?

PPI melakukan survei pada 26 September hingga 6 Oktober 2026, hanya beberapa hari berbeda dari Poltracking [1]. Hasilnya 65,4 persen puas dan 32,5 persen tidak puas [1]. Selisih sekitar sepuluh poin dengan Poltracking jauh melampaui margin of error masing-masing, sehingga tidak bisa dijelaskan oleh kebetulan statistik semata.

Penjelasan yang lebih mungkin ada di dapur masing-masing survei: bunyi pertanyaan, pilihan jawaban yang ditawarkan, urutan pertanyaan, cara menarik sampel, dan siapa yang mewawancarai. Sedikit perbedaan kata, misalnya "puas dengan kinerja pemerintah" dibandingkan "puas dengan kinerja Presiden", bisa menggeser jawaban. Survei Unhas yang hanya mencakup Indonesia Timur (900 responden di tujuh wilayah, 51 persen puas dan 44 persen tidak puas) juga mengingatkan bahwa angka nasional menyembunyikan perbedaan antarwilayah [3].

Kami tidak dalam posisi menyatakan lembaga mana yang paling tepat. Pembaca yang ingin menilai sendiri perlu membuka dokumen rilis lengkapnya, bukan hanya judul beritanya.


5. Lima Pertanyaan Sebelum Percaya Angka Survei

  1. Kapan survei dilakukan? Tanggal lapangan lebih penting daripada tanggal rilis.
  2. Berapa responden dan bagaimana mereka dipilih? Cari kata "acak" (random) dan "bertingkat" (multistage).
  3. Berapa margin of error-nya? Selisih di bawah angka ini belum tentu berarti apa-apa.
  4. Apa bunyi pertanyaannya? "Puas", "percaya", dan "akan memilih" adalah tiga hal berbeda.
  5. Bagaimana rinciannya? Angka per bidang dan per wilayah sering lebih jujur bercerita daripada angka utama.

Renungan Arkeologi Keseharian

Kita terbiasa membaca survei seperti membaca skor pertandingan: satu angka, lalu selesai. Padahal survei lebih mirip rapor sekolah. Nilai rata-rata boleh tujuh, tetapi di dalamnya bisa ada nilai sembilan untuk satu pelajaran dan nilai empat untuk pelajaran lain.

Rapor dua tahun ini menunjukkan hal yang sama. Angka utamanya mengatakan sebagian besar warga puas. Tabel di bawahnya mengatakan sebagian besar warga sedang kesulitan dengan harga di dapur. Keduanya benar, dan keduanya perlu dibaca bersama.

Bagian dari Seri Survei (1 dari 3). Episode lain: #2 Kenapa survei cuma 1.200 orang? · #3 Asal Bapak Senang


Daftar Sumber & Rujukan

  1. KompasTV (Oktober 2026). "Survei PPI: Kepuasan Kinerja Pemerintah 65,4 Persen, Prabowo 65,2 Persen." https://www.kompas.tv/amp/nasional/696758/survei-ppi-kepuasan-kinerja-pemerintah-65-4-persen-prabowo-65-2-persen
  2. Warta Ekonomi (19 Oktober 2026). "2 Tahun Prabowo-Gibran Versi Poltracking: Kepercayaan Publik 64,8 Persen." https://wartaekonomi.co.id/amp/read641952/2-tahun-prabowo-gibran-versi-poltracking-kepercayaan-publik-648-persen
  3. IDN Times Sulsel (Oktober 2026). "Survei Unhas: Kepuasan Warga Indonesia Timur ke Prabowo-Gibran 51 Persen." https://sulsel.idntimes.com/news/sulawesi-selatan/dua-tahun-prabowo-gibran-kepuasan-warga-indonesia-timur-51-persen-00-ghkwk-bl80sw
  4. Informasi.com (Oktober 2026). "Survei Poltracking: Kepuasan terhadap Prabowo-Gibran Stagnan, Ekonomi Sulit dan Harga Kebutuhan Pokok Tak Terjangkau." https://informasi.com/data/infrms-28990/survei-poltracking-kepuasan-terhadap-prabowo-gibran-stagnan-ekonomi-sulit-dan-harga-kebutuhan-pokok-tak-terjangkau
  5. Detik News (Oktober 2026). "Angka Kepuasan Publik di Tiap Bidang Pemerintahan Prabowo Versi Poltracking." https://news.detik.com/berita/d-8714113/angka-kepuasan-publik-di-tiap-bidang-pemerintahan-prabowo-versi-poltracking
  6. Koji Docs. "Courtesy Bias: Why Respondents Tell You What You Want to Hear." https://www.koji.so/docs/courtesy-bias
  7. Jones, E. L. (1963). "The Courtesy Bias in South-East Asian Surveys." International Social Science Journal. [Belum Terverifikasi: volume dan halaman belum dicek ke arsip jurnal]
Redaksi Anekdot
Tentang Penulis

Redaksi Anekdot

Redaksi Anekdot. Cerita dari rumah sendiri: asal-usul budaya, kebiasaan, dan hal-hal sehari-hari yang membentuk kita.

Newsletter Anekdot

Cerita di balik kebiasaan kita, langsung ke emailmu.

Gratis. Setiap esai baru Anekdot dikirim ke kotak masukmu, lengkap dengan sumbernya.

Hampir selesai! Cek email kamu dan klik tautan konfirmasi.

Maaf, ada yang gagal. Coba lagi sebentar.

Menemukan kekeliruan? Kirim ke [email protected]. Baca Pedoman Editorial.

Baca juga