Kenapa Survei Cuma Tanya 1.200 Orang? Rahasia Dapur Lembaga Survei, dari Gallup sampai Persepi

Penduduk 280 juta, kok survei cuma tanya 1.200 orang? Dari logika sendok sop, kegagalan Literary Digest 1936, sampai lembaga survei yang menolak diaudit pada 2014.

Redaksi Anekdot · 4 menit baca
Bagikan
Sayur sop yang sedang dimasak (Sumber: Wikimedia Commons, CC BY 4.0)
Untuk tahu rasa sepanci sop, cukup satu sendok, asal sopnya diaduk rata lebih dulu (Sumber: Wikimedia Commons).

Setiap kali sebuah survei dirilis, kolom komentar hampir selalu berisi kalimat yang sama: "Perasaan aku nggak pernah ditanya, kok tiba-tiba keluar angka suara rakyat?"

Kecurigaan itu wajar. Survei Poltracking yang dirilis pada 19 Oktober 2026, misalnya, hanya mewawancarai 1.220 orang [1]. Penduduk Indonesia lebih dari dua ratus delapan puluh juta jiwa. Bagaimana mungkin seribuan orang mewakili ratusan juta?

Jawabannya ada di dapur. Secara harfiah.


1. Logika Satu Sendok Sop

Bayangkan sepanci besar sayur sop. Untuk tahu apakah rasanya sudah pas, tidak ada juru masak yang menghabiskan seluruh isi panci. Cukup satu sendok. Syaratnya cuma satu: sopnya diaduk rata dulu. Kalau tidak diaduk, sendok pertama bisa saja hanya berisi kuah bening di permukaan, sementara garam dan bumbu mengendap di dasar.

Survei bekerja dengan prinsip yang sama. Yang menentukan ketepatan bukan banyaknya orang yang ditanya, melainkan cara memilih mereka. Jika setiap warga punya peluang yang setara untuk terpilih, dari kota sampai desa, dari yang kaya sampai yang miskin, maka sampel kecil bisa mencerminkan populasi besar.

Ada konsekuensi matematis yang sering mengejutkan orang. Untuk sampel acak sederhana pada tingkat kepercayaan 95 persen, margin of error untuk 1.000 orang sekitar 3,1 persen, dan untuk 1.200 orang sekitar 2,8 persen. Angka ini hampir tidak berubah apakah populasinya sepuluh juta atau dua ratus delapan puluh juta jiwa. Sendok yang sama cukup untuk panci kecil maupun kuali raksasa, selama isinya teraduk rata.


2. Pelajaran 1936: Jutaan Jawaban yang Meleset

Bukti paling terkenal datang dari pemilihan presiden Amerika Serikat tahun 1936, antara petahana Franklin D. Roosevelt dan penantangnya, Alf Landon.

Majalah The Literary Digest saat itu sangat percaya diri. Mereka mengirim sekitar sepuluh juta kartu suara percobaan dan menerima kembali sekitar 2,3 hingga 2,4 juta jawaban, atau tingkat respons sekitar 24 persen [2, 3]. Hasilnya memprediksi kemenangan Landon.

Kenyataannya, Roosevelt menang telak di 46 dari 48 negara bagian.

Apa yang salah? Penjelasan klasiknya: daftar alamat Digest banyak diambil dari pemilik telepon dan mobil, kelompok yang lebih mampu di masa Depresi Besar [3]. Penelitian Peverill Squire pada 1988 menambahkan lapisan penting: masalah terbesarnya adalah siapa yang mau membalas. Pendukung Landon jauh lebih bersemangat mengembalikan kartu dibanding pendukung Roosevelt. Squire menyimpulkan bahwa jika semua orang yang dikirimi kartu ikut menjawab, Digest setidaknya akan menebak Roosevelt sebagai pemenang [3].

Di tahun yang sama, George Gallup dan lembaganya, American Institute of Public Opinion, memakai sampel yang jauh lebih kecil dan berhasil menebak kemenangan Roosevelt [4]. Panci Digest memang jauh lebih banyak dicicipi, tetapi sopnya tidak pernah diaduk.

[Catatan Redaksi: Gallup Bukan Pahlawan Sempurna]
Gallup tahun 1936 belum memakai sampel acak murni, melainkan quota sampling: pewawancara mencari responden sampai kuota tertentu (misalnya sekian laki-laki, sekian petani) terpenuhi. Metode ini gagal pada pemilihan 1948, ketika Gallup dan lembaga lain memprediksi Thomas Dewey mengalahkan Harry Truman. Truman menang. Sejak itu industri survei beralih ke probability sampling, yakni pemilihan responden secara acak.

3. Bagaimana Survei Indonesia Mengaduk Panci

Survei nasional di Indonesia umumnya memakai metode stratified multistage random sampling [1]. Dalam bahasa dapur: panci besar dibagi dulu ke dalam mangkuk-mangkuk menurut provinsi dan wilayah, lalu dari tiap mangkuk diambil desa atau kelurahan secara acak, lalu rumah tangga secara acak, lalu satu anggota keluarga secara acak. Proporsi tiap tahap disesuaikan dengan jumlah penduduk sebenarnya.

Itulah sebabnya kebanyakan dari kita memang tidak pernah ditanya. Dengan 1.220 responden dari sekitar dua ratus juta pemilih, peluang seseorang terpilih dalam satu survei kira-kira satu banding seratus enam puluh ribu lebih. Tidak pernah ditanya bukan tanda survei itu bohong. Itu justru tanda pengacakan sedang bekerja.


4. 2014: Dapur yang Menolak Diperiksa

Logika sendok sop punya satu kelemahan: pembaca tidak bisa melihat sendiri apakah sopnya benar-benar diaduk. Karena itu, kepercayaan terhadap survei bergantung pada satu hal: kesediaan dapurnya diperiksa.

Ujian terbesar soal ini terjadi setelah pemilihan presiden 9 Juli 2014. Beberapa lembaga menayangkan hitung cepat (quick count) yang menyatakan pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla unggul. Lembaga lain, yaitu Puskaptis, JSI, IRC, dan LSN, menyatakan pasangan Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa menang dengan selisih satu hingga empat persen [5].

Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia (Persepi) lalu memanggil lembaga anggotanya untuk diaudit metodologi dan datanya. Empat lembaga yang diaudit, yaitu CSIS-Cyrus, LSI, SMRC, dan Indikator, dinyatakan menggunakan metode yang benar [5]. Dua lembaga lain, JSI dan Puskaptis, tidak memenuhi panggilan audit. Puskaptis berpendapat audit sebaiknya menunggu pengumuman resmi KPU, sementara JSI sempat mengajukan surat pengunduran diri dari keanggotaan [5, 6].

Pada 16 Juli 2014, Dewan Etik Persepi memutuskan mengeluarkan JSI dan Puskaptis dari keanggotaan karena dinilai melanggar kode etik [5, 6]. Enam hari kemudian, pada 22 Juli 2014, KPU menetapkan Joko Widodo dan Jusuf Kalla sebagai pemenang dengan 53,15 persen suara, sejalan dengan hasil lembaga-lembaga yang lolos audit.


5. Cara Mengintip Dapur Sebuah Survei

  1. Bagaimana responden dipilih? Sampel acak bertingkat jauh lebih bisa dipercaya daripada angket daring yang bisa diisi siapa saja.
  2. Berapa margin of error-nya? Lembaga yang serius selalu mencantumkannya.
  3. Siapa yang membiayai? Survei pesanan tidak otomatis salah, tetapi pemesannya patut diketahui.
  4. Apakah lembaganya bersedia diaudit? Keanggotaan dalam asosiasi seperti Persepi berarti dapurnya siap diperiksa bila ada sengketa.
  5. Apakah hasilnya konsisten dengan lembaga lain? Satu angka yang menyimpang jauh sendirian layak dicurigai sampai ada penjelasan.

Renungan Arkeologi Keseharian

Kebiasaan kita meragukan survei karena "nggak pernah ditanya" ternyata lahir dari salah kaprah yang sama dengan majalah Literary Digest hampir sembilan puluh tahun lalu: anggapan bahwa makin banyak yang ditanya, makin benar hasilnya.

Pelajaran 1936 dan 2014 justru menunjukkan sebaliknya. Jutaan jawaban bisa meleset, seribuan jawaban bisa tepat. Yang membedakan bukan besarnya sendok, tetapi apakah sopnya diaduk, dan apakah juru masaknya bersedia dapurnya diperiksa.

Bagian dari Seri Survei (2 dari 3). Episode lain: #1 Rapor dua tahun pemerintahan · #3 Asal Bapak Senang


Daftar Sumber & Rujukan

  1. Warta Ekonomi (19 Oktober 2026). "2 Tahun Prabowo-Gibran Versi Poltracking: Kepercayaan Publik 64,8 Persen." https://wartaekonomi.co.id/amp/read641952/2-tahun-prabowo-gibran-versi-poltracking-kepercayaan-publik-648-persen
  2. ProQuest Blog (7 September 2016). "That Time the Literary Digest Poll Got 1936 Election Wrong." https://about.proquest.com/en/blog/2016/That-Time-the-Literary-Digest-Poll-Got-1936-Election-Wrong/
  3. Squire, Peverill (1988). "Why the 1936 Literary Digest Poll Failed." Public Opinion Quarterly 52(1). Dirangkum dalam Lohr & Brick (2017), "Roosevelt Predicted to Win: Revisiting the 1936 Literary Digest Poll." https://www.gwern.net/doc/statistics/bias/2017-lohr.pdf
  4. The Christian Science Monitor (13 Maret 1992). "Election-Year Polls Saturate the Public." https://www.csmonitor.com/1992/0313/13131.html
  5. Kontan (16 Juli 2014). "JSI dan Puskaptis Dikeluarkan dari Anggota Persepi." https://nasional.kontan.co.id/news/jsi-dan-puskaptis-dikeluarkan-dari-anggota-persepi
  6. Hukumonline (Juli 2014). "Dua Lembaga Survei Menolak Diaudit." https://www.hukumonline.com/berita/a/dua-lembaga-survei-menolak-diaudit-lt53c76ac1d9f2e/
Redaksi Anekdot
Tentang Penulis

Redaksi Anekdot

Redaksi Anekdot. Cerita dari rumah sendiri: asal-usul budaya, kebiasaan, dan hal-hal sehari-hari yang membentuk kita.

Newsletter Anekdot

Cerita di balik kebiasaan kita, langsung ke emailmu.

Gratis. Setiap esai baru Anekdot dikirim ke kotak masukmu, lengkap dengan sumbernya.

Hampir selesai! Cek email kamu dan klik tautan konfirmasi.

Maaf, ada yang gagal. Coba lagi sebentar.

Menemukan kekeliruan? Kirim ke [email protected]. Baca Pedoman Editorial.

Baca juga