Kenapa Merek Kopi Tertua di Indonesia Lahir dari Warung Nasi?

Sebelum menjadi Bakoel Koffie dan Warung Tinggi, merek kopi tertua di Indonesia ini berawal dari warung nasi di tepi kanal Molenvliet pada 1878.

Redaksi Anekdot · 2 menit baca
Bagikan
Kenapa Merek Kopi Tertua di Indonesia Lahir dari Warung Nasi?
Kanal Molenvliet di Batavia sekitar tahun 1890, kawasan tempat Liaw Tek Soen mendirikan warung nasi yang menjadi cikal bakal Bakoel Koffie. Foto: Tropenmuseum, Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0).

Merek kopi tertua di Indonesia lahir pada 1878 di Batavia dari sebuah warung nasi [1]. Liaw Tek Soen bersama istrinya awalnya menjual makanan untuk para pekerja kanal Molenvliet [2]. Usaha kopi ini baru bermula ketika seorang perempuan pedagang keliling menawarkan biji kopi mentah di dalam bakul rotan [3].

Tulisan ini tidak hendak meromantisasi masa kolonial. Yang ingin kami telusuri adalah bagaimana perjumpaan budaya sehari-hari di rumah kita sendiri melahirkan merek legendaris yang sanggup bertahan melewati empat zaman perubahan politik dan sosial di tanah air.

Bagaimana Sebuah Warung Nasi Berubah Menjadi Kedai Kopi?

Pada akhir abad ke-19, sistem Tanam Paksa (Cultuurstelsel) membuat sebagian besar kopi mutu terbaik dari tanah Jawa langsung dikapalkan ke Eropa [4]. Penduduk lokal di Batavia umumnya hanya menikmati sisa-sisa sortiran atau seduhan kopi pinggir jalan yang mutunya kurang terjaga.

Di tepi kanal Molenvliet Oost (kini Jalan Hayam Wuruk, Jakarta), Liaw Tek Soen membeli biji kopi yang dibawa oleh perempuan penjual bakul tadi [2]. Didorong rasa penasaran, ia menyangrai sendiri biji kopi itu menggunakan kuali besi, pasir kali, dan kayu bakar [3]. Metode sangrai pasir kali ini memungkinkan panas api merata sempurna ke seluruh bagian biji tanpa membuat kulit luarnya lekas hangus.

Aroma seduhan kopi kuali pasir itu menyebar di sepanjang kanal dan menarik perhatian warga sekitar. Tak butuh waktu lama, para pelanggan warung nasinya mulai beralih: mereka datang bukan lagi untuk makan nasi, melainkan memesan secangkir kopi seduh panas dan membeli bubuk kopi bungkusan untuk dibawa pulang [1]. Menyadari peluang besar ini, Tek Soen perlahan menyingkirkan menu nasinya dan memusatkan seluruh tenaganya untuk mengolah kopi.

Dari Mana Asal Nama Warung Tinggi dan Bakoel Koffie?

Nama "Warung Tinggi" lahir secara organik dari lidah masyarakat Batavia [2]. Karena lokasi warung Tek Soen berada di tanggul yang posisinya sengaja dibangun lebih tinggi dari jalanan dan kanal Ciliwung agar terhindar dari luapan air saat banjir musim hujan, para pelanggan terbiasa berkata: "Mari kita ngopi di warung yang tinggi itu" [3].

Pada 1927, di bawah kepemimpinan generasi kedua (Liaw Tek Siong), usaha keluarga ini resmi mendaftarkan pabrik sangrai berizin pertama di Weltevreden dengan nama dagang Tek Sun Ho (Eerste Weltevredensche Koffiebranderij) [1]. Mereka melayani pelanggan lintas etnis, dari warga lokal Batavia, komunitas Tionghoa, saudagar Arab di Pekojan, hingga pejabat kolonial Belanda [2].

[Catatan Redaksi] Tahun pendirian 1878 berakar dari tradisi lisan keluarga perintis dan peringatan perayaan 60 tahun usaha pada 1938, sementara izin resmi pabrik sangrai Weltevreden tercatat dalam dokumen dagang kolonial pada 1927.

Ketika bisnis keluarga ini berkembang memasuki era modern dan dipimpin generasi kelima, lahirlah jenama Bakoel Koffie [1]. Menariknya, lambang perempuan berkebaya yang menggendong bakul di atas kepalanya yang menjadi logo resmi mereka bukanlah sekadar ornamen grafis [2]. Logo itu adalah monumen penghormatan abadi keluarga perintis kepada sosok perempuan pedagang keliling bersahaja yang pertama kali membawa biji kopi mentah ke warung mereka pada 1878 [3].

Seperti halnya kisah asal-usul nama Indonesia atau jejak mata uang pertama kita, kebiasaan minum kopi kita tidak lahir dari ruang hampa. Di balik setiap cangkir kopi yang kita nikmati hari ini, ada perjumpaan sejarah bersahaja dari rumah kita sendiri.


Sumber & Rujukan

  1. Historia.id (2018). Kopi Tertua di Batavia. Mengulas silsilah Tek Sun Ho dan pabrik sangrai Weltevreden 1927. Tautan arsip: historia.id
  2. Koffie Warung Tinggi & Bakoel Koffie Archives. Dokumentasi Sejarah Usaha Keluarga 1878–Sekarang. Molenvliet Oost, Jakarta. Tautan sejarah resmi: bakoelkoffie.com/our-heritage
  3. Dinas Kebudayaan DKI Jakarta. Pusaka Kuliner Tradisional dan Bangunan Cagar Budaya Batavia. Catatan toponimi dan niaga Molenvliet. Tautan data: kebudayaan.kemdikbud.go.id
  4. Tropenmuseum Collection. Molenvliet Batavia ca. 1890. Arsip tata ruang dan foto historis Batavia. Tautan koleksi: collectie.wereldmuseum.nl
Redaksi Anekdot
Tentang Penulis

Redaksi Anekdot

Redaksi Anekdot. Cerita dari rumah sendiri: asal-usul budaya, kebiasaan, dan hal-hal sehari-hari yang membentuk kita.

Newsletter Anekdot

Cerita di balik kebiasaan kita, langsung ke emailmu.

Gratis. Setiap esai baru Anekdot dikirim ke kotak masukmu, lengkap dengan sumbernya.

Hampir selesai! Cek email kamu dan klik tautan konfirmasi.

Maaf, ada yang gagal. Coba lagi sebentar.

Menemukan kekeliruan? Kirim ke [email protected]. Baca Pedoman Editorial.

Baca juga