Kenapa Indonesia yang Dulu Pengekspor Gula Kini Mengimpor?
Tahun 1930, Jawa punya 180-an pabrik gula dan jadi pemasok nomor dua dunia. Pada 2024, Indonesia mengimpor 5,5 juta ton gula. Begini ceritanya.
Indonesia yang dulu pengekspor gula kini mengimpor karena industrinya hancur setelah 1942 dan tidak pernah pulih. Pabrik dibumihanguskan, petani lebih memilih menanam padi, dan pabrik peninggalan Belanda tidak diremajakan [1][2]. Sejak 1967 Indonesia membuka impor gula, dan pada 2024 impornya mencapai 5,5 juta ton [1].
Ini esai keempat Seri Pangan, setelah swasembada beras 1984, garam di negeri pantai, dan sagu Mentawai. Ceritanya juga ada di video panjang Seri Pangan kami.
Sebesar apa industri gula kita dulu?
Industri gula besar pada masa kolonial, ketika Indonesia masih bernama Hindia Belanda. Menurut CNBC Indonesia, sejak masa tanam paksa (1830-1870) dan setelah Undang-Undang Agraria serta Undang-Undang Gula 1870, Hindia Belanda selalu surplus gula [1]. Mengutip sejarawan Ricklefs, produksinya 380.400 metrik ton pada 1885 dan 744.300 metrik ton di penghujung abad ke-19 [1].
Puncaknya datang sekitar 1930. Sampai tahun itu tercatat 180-an pabrik gula di Jawa, dengan produksi 3 juta ton per tahun. Hindia Belanda menjadi pemasok nomor dua di dunia, hanya kalah dari Kuba [1].
| Tahun | Produksi gula Hindia Belanda |
|---|---|
| 1885 | 380.400 ton [1] |
| Akhir abad ke-19 | 744.300 ton [1] |
| Sekitar 1930 | 3 juta ton per tahun, 180-an pabrik di Jawa [1] |
Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), Sumitro Samadikun, kepada detikFinance pada 2016 menyebut puncaknya terjadi pada 1929-1930: "Kita juara dunia gula tahun 1929 sampai 1930" [2].
[Catatan Redaksi] Kejayaan gula ini lahir dari kebijakan kolonial, termasuk tanam paksa [1]. Menurut CNBC Indonesia, Hindia Belanda bahkan bisa dikatakan tak akan eksis tanpa keuntungan dari industri gula [1]. Jadi ini bukan kejayaan petani tebu kita.
Apa yang terjadi setelah 1942?
Masa keemasan berakhir saat pendudukan Jepang pada 1942. Pabrik-pabrik gula dibumihanguskan oleh Belanda, dan produksi terus turun sampai masa kemerdekaan [1].
Menghidupkan industri gula lagi ternyata tidak mudah. Harga sewa tanah tidak naik, dan petani enggan menanam tebu karena padi lebih menguntungkan [1]. Gula dan beras berebut lahan yang sama.
Pemerintah mencoba beberapa kali. Pada 1953, Presiden Soekarno membentuk Yayasan Tebu Rakyat (Yatra) yang memberi petani kredit berbunga rendah untuk bibit, pupuk, dan biaya hidup sampai panen. Upaya itu gagal. Pada 1960, terbit Perpu No. 38 yang mengatur penggunaan lahan untuk tebu, dengan sanksi bagi yang menghalangi. Itu pun gagal, dan produksi terus merosot [1].
Kapan Indonesia mulai mengimpor gula?
Pada 1967, pemerintah membuka impor gula untuk pertama kalinya dalam sejarah [1]. Sejak itu keran impor terus terbuka.
Pada 1975, era Soeharto, ada program Tebu Rakyat Intensifikasi yang mewajibkan petani menggarap tebu. Produksi memang naik, tetapi menurut CNBC Indonesia mutunya buruk sehingga impor tetap berjalan, dan petani menderita karena ada unsur paksaan [1].
Sumitro dari APTRI menunjuk masalah lain: pabrik peninggalan Belanda tidak diremajakan. "Setelah merdeka malah banyak pabrik gula dibiarkan," katanya [2]. Menurutnya, produksi Indonesia menyusut dari 3 juta ton di masa jaya menjadi 2,5 juta ton pada 2016, sementara kebutuhan gula konsumsi sekitar 3 juta ton per tahun [2].
Seberapa besar impornya sekarang?
Pada 2024, impor gula Indonesia mencapai 5,5 juta ton, menjadikannya salah satu importir gula terbesar di dunia [1]. Riset CNBC Indonesia, mengutip data Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) Mei 2024, menempatkan Indonesia di peringkat pertama pengimpor gula dunia dengan 5,55 juta ton, melampaui China, India, Uni Eropa, dan Amerika Serikat [3]. Menurut National Sugar Summit Indonesia yang dikutip riset yang sama, produksi gula dalam negeri 2023 hanya 2.271 ribu ton, sementara konsumsinya 3.402 ribu ton [3].
[Catatan Redaksi] Sumber tidak merinci apakah 5,5 juta ton itu gula konsumsi, gula untuk industri, atau keduanya. Angka produksi 2,5 juta ton dan kebutuhan 3 juta ton dari APTRI adalah kondisi 2016 untuk gula konsumsi, jadi tidak bisa dibandingkan langsung dengan impor 2024.
Renungan Arkeologi Keseharian
Gula di cangkir teh kita punya sejarah yang pahit. Kejayaannya lahir dari sistem kolonial, keruntuhannya dimulai dari pabrik yang dibakar, dan kegagalan bangkit setelahnya datang dari sawah yang lebih menguntungkan bagi petani. Swasembada ternyata bukan soal mampu menanam, melainkan soal apakah menanamnya masih masuk akal bagi yang mengerjakan.
Sumber
- M Fakhriansyah, "Kisah RI Pertama Kali Impor Gula, Terjadi di Era Presiden Ini", CNBC Indonesia, 3 November 2024. https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20241030140956-25-584235/kisah-ri-pertama-kali-impor-gula-terjadi-di-era-presiden-ini
- "RI Pernah Jadi Eksportir Gula Terbesar Kedua Dunia, Kini Malah Impor", detikFinance, 23 Mei 2016. https://finance.detik.com/industri/3215159/ri-pernah-jadi-eksportir-gula-terbesar-kedua-dunia-kini-malah-impor
- Riset CNBC Indonesia, "Seret Tom Lembong, Data Membuktikan Impor Gula Naik dalam 1 Dekade", CNBC Indonesia, 3 November 2024. https://www.cnbcindonesia.com/research/20241103090751-128-585176/seret-tom-lembong-data-membuktikan-impor-gula-naik-dalam-1-dekade
Redaksi Anekdot
Redaksi Anekdot. Cerita dari rumah sendiri: asal-usul budaya, kebiasaan, dan hal-hal sehari-hari yang membentuk kita.
Cerita di balik kebiasaan kita, langsung ke emailmu.
Gratis. Setiap esai baru Anekdot dikirim ke kotak masukmu, lengkap dengan sumbernya.
Menemukan kekeliruan? Kirim ke [email protected]. Baca Pedoman Editorial.