Kenapa Mentawai Beralih dari Sagu ke Nasi?

Program padi sejak Orde Baru dan target 600 hektare sawah baru 2012 mengubah piring Mentawai, tapi panennya baru cukup sekitar separuh kebutuhan.

Redaksi Anekdot · 3 menit baca
Bagikan
Dua pria Mentawai memukul batang sagu untuk mengambil patinya di Siberut, sekitar 1900 sampai 1940
Dua pria Mentawai mengolah sagu di Siberut, sekitar 1900 sampai 1940. Foto: COLLECTIE TROPENMUSEUM, Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0. Arsip lama, bukan gambaran kondisi sekarang.

Menurut kajian antropologi di jurnal BRIN, Mentawai beralih dari sagu ke nasi lewat program pemerintah yang mendorong padi sejak Orde Baru, termasuk target 600 hektare sawah baru pada 2012 [1]. Padi Mentawai baru mencukupi kurang lebih 50% kebutuhan per tahun, sementara generasi yang tumbuh dengan nasi kini lebih suka nasi [1].

Ini episode ketiga Seri Pangan. Episode pertama membahas kenapa swasembada beras 1984 tidak bertahan. Tulisan ini hanya tentang Mentawai. Kami tidak menyimpulkan bahwa seluruh Indonesia timur meninggalkan sagu; data di bagian akhir justru menunjukkan sebaliknya.

Apa yang dilakukan pemerintah di Mentawai?

Simatupang dan Rusastra (2004) mencatat bahwa pada masa Orde Baru, 1968 sampai 1998, ada "kebijakan perberasan" tingkat nasional yang sering juga disebut revolusi hijau [1]. Kajian BRIN menempatkan Mentawai sebagai salah satu sasaran program pembangunan sejak masa itu [1].

Pada 2012, program "Peningkatan Keamanan Pangan Nasional" dijalankan di enam kecamatan Kepulauan Mentawai: Pagai Selatan, Pagai Utara, Sikakap, Sipora Selatan, Sipora Utara, dan Siberut Selatan. Tujuannya intensifikasi pertanian dan membangun 600 hektare sawah baru (Pradipta, 2019, dikutip dalam [1]).

Masalahnya, menurut para penulis, orang Mentawai tidak memiliki pengetahuan tentang pertanian padi sawah, sehingga peralihan dari sagu ke beras menjadi pelik. Sagu juga bukan sekadar pangan: ia terkait dengan kehidupan sosial budaya, seperti upacara adat dan Arat Sabulungan [1].

Berhasilkah sawah baru itu?

Kajian yang sama menulis bahwa pembukaan lahan dan penanaman padi di Mentawai tidak terbilang berhasil dan memiliki beberapa kendala [1].

Yang tercatat Angka
Target sawah baru, program 2012 600 hektare [1]
Produksi padi per tahun 1.800 sampai 3.500 ton [1]
Kecukupan terhadap kebutuhan per tahun kurang lebih 50% [1]
[Catatan Redaksi] Angka produksi dan kecukupan dikutip jurnal dari Erwin (2017), dan angka sawah dari Pradipta (2019). Kami hanya membaca jurnalnya, belum dokumen aslinya, dan tahun data produksinya tidak dijelaskan.

Kenapa generasi sekarang lebih suka nasi?

Para penulis mencatat bahwa anak muda tidak lagi mau memakan sagu. Mereka memilih nasi dan lauk-pauk karena menganggapnya lebih enak dan lebih mudah dimasak, apalagi alat memasak nasi mudah didapat [1].

Perubahan itu tidak instan. Orang Mentawai sekarang sudah diperkenalkan dengan nasi sejak lahir, sehingga hingga dewasa mereka lebih suka nasi dan menganggap sagu hanya makanan tradisional Mentawai, bukan makanan pokok [1]. Anak Mentawai yang kuliah di luar pulau pun tidak lagi menganggap sagu makanan pokok [1].

Para penulis memperingatkan: bila ini terus berlangsung, sagu akan menjadi makanan tradisional yang langka [1].

Apakah sagu hilang di seluruh Indonesia timur?

Tidak. Olahan data Susenas BPS rata-rata 2018 sampai 2024 menunjukkan konsumsi sagu terkonsentrasi di Indonesia timur, dengan Papua Selatan tertinggi, 23,6 kilogram per kapita per tahun. Artikel Kanwil DJPb Kepulauan Riau itu juga belum menemukan bukti kuat bahwa bantuan pangan non-tunai (BPNT) menggeser konsumsi beras maupun sagu di tingkat provinsi [2].

Di Maluku, Kepala Dinas Pertanian Ilham Tauda mengatakan luas potensi sagu 36.462 hektare dapat menghasilkan 14.123 ton sagu. Provinsi itu disebut berada di posisi tiga sentra sagu terbesar setelah Riau dan Papua Tengah, dengan lahan yang umumnya tidak terawat dengan baik [3]. Kami juga menelusuri sisi lain Maluku dalam esai tentang paradoks Maluku: setia di rumah, rentan di peta.

Satu studi di Desa Masihulan, Maluku Tengah, menemukan rata-rata konsumsi sagu 87,65 kilogram per bulan, jauh di atas beras yang 23,90 kilogram per bulan. Sebagian besar pendapatan warganya berasal dari penjualan sagu, dan tingginya harga beras membuat beras hanya terjangkau bila pendapatan naik atau ada bantuan sembako [4].

[Catatan Redaksi] Studi Masihulan hanya mengambil 32 responden dari 110 kepala keluarga di satu desa, dan sumbernya tidak menjelaskan apakah angka itu per orang atau per keluarga. Jadi ini gambaran satu desa, bukan Maluku.

Renungan Arkeologi Keseharian

Piring nasi dan piring sagu sama-sama bisa menjadi makanan pokok. Di Mentawai, kajian ini menunjukkan perubahan itu datang lewat program, kebiasaan, dan satu generasi yang tumbuh dengan nasi. Di desa lain, sagu masih bertahan karena orang mencari nafkah darinya. Kebiasaan makan kita rupanya jarang soal selera saja.


Sumber

  1. Ade Irwandi dan Kris Irwandi Saleleubaja, "Dari Sagu ke Beras: Perubahan Kehidupan Sosial Budaya Orang Mentawai", Masyarakat Indonesia 47(2), 2021, hlm. 195-206, BRIN. DOI 10.14203/jmi.v47i2.985. https://ejournal.brin.go.id/jmi/article/download/8442/6481
  2. Taufan Maulana, "Ketika Bantuan Beras Bertemu Sagu: Menakar Ulang Kebijakan Pangan Lokal di Era Perubahan Iklim", Kanwil DJPb Kepulauan Riau, 31 Agustus 2026. https://djpb.kemenkeu.go.id/kanwil/kepri/id/data-publikasi/publikasi-umum/artikel/3091-ketika-bantuan-beras-bertemu-sagu-menakar-ulang-kebijakan-pangan-lokal-di-era-perubahan-iklim.html
  3. "Maluku Punya Lahan Sagu 36.462 Hektare, Bisa Dukung Ketahanan Pangan", Kompas.com (bersumber dari Antara), 30 Januari 2025. https://lestari.kompas.com/read/2025/01/30/195043286/maluku-punya-lahan-sagu-36462-hektare-bisa-dukung-ketahanan-pangan
  4. Agustinus Toatubun, Jeter D. Siwalette, dan Junianita F. Sopamena, "Tingkat Konsumsi Beras dan Pangan Lokal di Desa Masihulan, Kecamatan Wahai, Kabupaten Maluku Tengah", Agrilan: Jurnal Agribisnis Kepulauan 14(1), 2026, hlm. 1-10. DOI 10.30598/agrilan.v14i1.22151. https://ojs3.unpatti.ac.id/index.php/agrilan/article/download/22151/12421
Redaksi Anekdot
Tentang Penulis

Redaksi Anekdot

Redaksi Anekdot. Cerita dari rumah sendiri: asal-usul budaya, kebiasaan, dan hal-hal sehari-hari yang membentuk kita.

Newsletter Anekdot

Cerita di balik kebiasaan kita, langsung ke emailmu.

Gratis. Setiap esai baru Anekdot dikirim ke kotak masukmu, lengkap dengan sumbernya.

Hampir selesai! Cek email kamu dan klik tautan konfirmasi.

Maaf, ada yang gagal. Coba lagi sebentar.

Menemukan kekeliruan? Kirim ke [email protected]. Baca Pedoman Editorial.

Baca juga