Apa Itu Stevia, dan Kenapa Kita Ramai Mencari Pengganti Gula?

Stevia adalah daun pemanis dari Paraguay, disebut 200 kali lebih manis dari gula. Dulu obat, kini dicari sebagai pengganti gula.

Redaksi Anekdot · 3 menit baca
Bagikan
Daun stevia (Stevia rebaudiana)
Daun stevia. Foto: Robert Lynch, CC0, Wikimedia Commons

Stevia adalah daun dari Amerika Selatan, dalam bahasa Guarani disebut ka'a he'e atau "daun manis", yang pada 1928 dilaporkan 200 kali lebih manis dari gula [1]. Kita ramai mencarinya karena ingin rasa manis tanpa kalori gula. Pekan ini stevia jadi perbincangan setelah sebuah merek pemanis stevia diuji BPOM [2].

Polemiknya bermula dari unggahan pemengaruh Dokter Detektif yang mengklaim hasil uji labnya menemukan pemanis buatan sukralosa dan neotam yang tidak tercantum di komposisi produk Beeru Stevia [2]. Beeru menghentikan sementara penjualan sambil memverifikasi ke mitra manufakturnya, dan BPOM menyatakan masih mengambil sampel dan menguji; hasilnya belum diumumkan [2]. Tulisan ini tidak hendak menilai produk itu. Yang ingin kami telusuri: bagaimana daun dari Paraguay sampai ke meja kopi kita, di negeri yang dulu justru raja gula.

[Catatan Redaksi] Temuan kandungan berasal dari klaim pemengaruh berdasarkan uji lab yang ia lakukan sendiri. Sampai tulisan ini terbit, BPOM belum mengumumkan hasil ujinya.

Dari mana stevia berasal?

Stevia berasal dari wilayah kecil di Amerika Selatan. Menurut sejarawan Bridget Maria Chesterton dan Timothy Yang, seperti dirangkum JSTOR Daily, orang Guarani di Paraguay sejak lama memakai daunnya sebagai obat untuk mengatur gula darah. "Ia adalah obat diabetes sebelum diabetes menjadi penyakit modern," tulis keduanya [1].

Orang Guarani tidak memakainya sebagai pemanis. Mereka jarang memaniskan makanan, dan bila perlu, mereka memakai madu [1]. Baru pada awal abad ke-20 peneliti Eropa mempelajarinya dan memberinya nama Stevia rebaudiana Bertoni, dari nama naturalis Swiss Moisés Bertoni [1].

Kenapa stevia baru populer belakangan?

Daunnya punya rasa pahit di ujung lidah, sehingga lama tidak dijadikan produk [1]. Titik baliknya terjadi di Jepang pada 1970-an. Ketika pemerintah Jepang melarang pemanis buatan seperti sakarin karena dugaan kaitannya dengan kanker, hingga akhir 1973 ada 43 pusat riset di sana yang meneliti budidaya stevia dan cara mengambil rasa manisnya tanpa pahit [1].

Di Indonesia, pakar pangan IPB University Prof Nuri Andarwulan menjelaskan stevia termasuk pemanis alami, berupa senyawa glikosida steviol yang diekstrak dari daunnya. Penggunaannya diatur BPOM mengikuti standar Codex, badan pangan di bawah PBB, termasuk batas asupan harian yang dianggap aman [3].

Bukankah kita dulu raja gula?

Ini ironinya. Pada masa Hindia Belanda, Jawa punya 180-an pabrik gula hingga 1930, memproduksi sekitar 3 juta ton per tahun, dan menjadi pemasok nomor dua dunia setelah Kuba [4]. Menurut Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia, Sumitro Samadikun, puncaknya terjadi pada 1929–1930 [5].

Masa emas itu berakhir ketika pendudukan Jepang pada 1942 dan pembumihangusan pabrik [4]. Kini keadaannya terbalik: CNBC Indonesia mencatat impor gula Indonesia mencapai 5,5 juta ton pada 2024 [4].

Masa Hindia Belanda (sekitar 1930) Kini
Posisi Pemasok gula nomor dua dunia [4] Salah satu importir gula terbesar [4]
Angka Produksi sekitar 3 juta ton per tahun [4] Impor 5,5 juta ton (2024) [4]
[Catatan Redaksi] Angka pabrik dan produksi masa kolonial berbeda tipis antarsumber (178–180 pabrik). Kami memakai angka yang dikutip CNBC Indonesia dan detikFinance; sumber primernya belum kami periksa langsung.

Gula yang dulu jadi tulang punggung ekspor kolonial juga pernah kami singgung dalam kisah babi ngepet dan orang kaya baru masa tanam paksa. Isi meja makan kita, seperti cabai yang ternyata pendatang dari Meksiko, sering punya perjalanan panjang yang tidak kita sadari.

Renungan Arkeologi Keseharian

Sebungkus kecil pemanis di samping cangkir kopi menyimpan dua cerita. Satu tentang daun obat dari Paraguay yang baru dikomersialkan setelah Jepang melarang pemanis buatan. Satu lagi tentang negeri yang dulu mengekspor gula ke seluruh dunia, kini mengimpornya, lalu mencari penggantinya. Polemik pekan ini menambahkan pelajaran ketiga: label di kemasan hanya sebaik pengawasan di belakangnya.


Sumber

  1. Livia Gershon, "Stevia's Global Story", JSTOR Daily, 10 Juli 2023, merangkum Bridget Maria Chesterton dan Timothy Yang, Journal of World History. https://daily.jstor.org/stevias-global-story/
  2. "Beeru Stevia Disetop Sementara, BPOM Masih Uji Sampel Kandungan Gula", Kompas.com, 29 Oktober 2026. https://health.kompas.com/read/26J29184938968/beeru-stevia-disetop-sementara-bpom-masih-uji-sampel-kandungan-gula
  3. "IPB University Expert Confirms Stevia is Safe for Consumption, Refutes Negative Claims on Social Media", IPB University, 17 September 2025. https://www.ipb.ac.id/?p=93749
  4. M Fakhriansyah, "Kisah RI Pertama Kali Impor Gula Terjadi di Era Presiden Ini", CNBC Indonesia, 3 November 2024. https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20241030140956-25-584235/kisah-ri-pertama-kali-impor-gula-terjadi-di-era-presiden-ini
  5. "RI Pernah Jadi Eksportir Gula Terbesar Kedua Dunia, Kini Malah Impor", detikFinance, 23 Mei 2016. https://finance.detik.com/industri/3215159/ri-pernah-jadi-eksportir-gula-terbesar-kedua-dunia-kini-malah-impor
Redaksi Anekdot
Tentang Penulis

Redaksi Anekdot

Redaksi Anekdot. Cerita dari rumah sendiri: asal-usul budaya, kebiasaan, dan hal-hal sehari-hari yang membentuk kita.

Newsletter Anekdot

Cerita di balik kebiasaan kita, langsung ke emailmu.

Gratis. Setiap esai baru Anekdot dikirim ke kotak masukmu, lengkap dengan sumbernya.

Hampir selesai! Cek email kamu dan klik tautan konfirmasi.

Maaf, ada yang gagal. Coba lagi sebentar.

Menemukan kekeliruan? Kirim ke [email protected]. Baca Pedoman Editorial.

Baca juga