Kenapa Malam Jumat Dianggap Seram? Pertemuan Kalender Islam dan Mistisisme Jawa
Dalam ajaran Islam Jumat adalah Sayyidul Ayyam (hari paling mulia), tapi mengapa malam Jumat di Indonesia selalu identik dengan hantu dan horor? Simak sejarahnya.
Di Indonesia, ada satu fenomena kultural yang unik: jika kamu menyebut kata "malam Jumat", hal pertama yang terlintas di benak banyak orang adalah bau kemenyan, arwah gentayangan, kuburan, dan kuntilanak.
Padahal dalam teologi Islam, hari Jumat adalah Sayyidul Ayyam atau penghulu segala hari, hari paling mulia yang penuh berkah. Lantas, bagaimana ceritanya sebuah malam yang seharusnya sakral dan suci bertransformasi menjadi malam paling menyeramkan dalam imajinasi kolektif masyarakat kita?
1. Pergeseran Jam: Maghrib Sebagai Awal Hari Baru
Kunci pertama terletak pada sistem penanggalan.
Dalam sistem kalender Masehi modern, pergantian hari terjadi di tengah malam pada pukul 00.00. Namun dalam penanggalan Hijriah (Islam) dan penanggalan Saka (Jawa), hari baru dimulai tepat saat matahari terbenam (waktu Maghrib).
Artinya, apa yang kita sebut "Kamis malam" dalam kalender masehi sebenarnya sudah resmi memasuki hari Jumat. Karena Jumat adalah hari suci, maka sejak Kamis petang masyarakat diimbau menghentikan aktivitas duniawi di luar rumah untuk beribadah, mengaji, dan mendoakan para leluhur yang telah berpulang.
2. Pertemuan Hari Suci dengan Weton Kliwon
Di tanah Jawa, sistem hari tujuh diintegrasikan dengan siklus pasaran lima hari: Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon.
Bagi masyarakat tradisional, Kliwon diposisikan sebagai pancer atau titik pusat keseimbangan spiritual. Ketika siklus hari Jumat (paling mulia dalam Islam) bertemu dengan pasaran Kliwon (paling sakral dalam kosmologi Jawa), lahirlah Jumat Kliwon.
Malam Jumat Kliwon dipercaya sebagai momen terbukanya gerbang antara dimensi nyata dan alam ghaib. Orang tua zaman dulu melarang anak-anak berkeliaran di luar rumah saat maghrib dan menganjurkan tafakur di dalam rumah. Larangan mendidik ini lambat laun berubah menjadi mitos bahwa setan dan arwah sedang berkeliaran.
3. Komodifikasi Industri Film Horor 1980-an
Mitos sakral ini kemudian mengalami pembesaran masif di era seribu sembilan ratus delapan puluhan melalui industri bioskop nasional.
Sutradara dan produser film horor era Suzanna meminjam mistisisme malam Jumat Kliwon dan mengemasnya menjadi tontonan pop yang mencekam. Dari sanalah cap horor malam Jumat terkunci permanen di kepala generasi modern hingga hari ini.
Catatan Redaksi
Malam Jumat aslinya bukan tentang rasa takut kepada hantu, melainkan jeda spiritual untuk mengingat asal-usul kita dan mendoakan mereka yang telah tiada. Yang membuat malam Jumat seram bukanlah sosok dedemit, melainkan imajinasi kita sendiri yang lupa pada esensi ketenangan dan doa.
📖 Rekomendasi Arsip Esai Selanjutnya:
- Lawang Sewu: Apakah Benar-Benar Punya Seribu Pintu? — Mengapa bangunan bersejarah kolonial selalu distigmatisasi cerita hantu?
- Lebih Tua dari Indonesia: Kisah Tempe di Naskah Kuno Serat Centhini — Menelusuri kosmologi Jawa dan catatan hidup abad ke-16 dalam manuskrip kuno.