Kenapa Halloween Mirip Ruwahan? Dulu Kuenya Ditukar Doa untuk Arwah
Sebelum jadi pesta kostum, ada souling: kue ditukar doa untuk arwah. Kita punya versi sendiri, ruwahan, yang masih berbentuk doa dan apem.
Halloween mirip ruwahan karena salah satu akarnya adalah tradisi mendoakan orang mati. Di Inggris dan Irlandia abad pertengahan, orang miskin mengetuk pintu pada Hari Semua Orang Kudus, 1 November, meminta makanan sebagai ganti doa untuk arwah [1]. Kostum dan trick-or-treat yang kita kenal baru dimulai di Amerika Serikat sekitar Perang Dunia II [1].
Sabtu, 31 Oktober 2026, banyak hotel, kelab, dan pusat hiburan menggelar pesta Halloween. Di Bali saja, detikBali mencatat acara dari Sanur sampai Canggu, meski "tidak semua masyarakat Indonesia merayakan momen tersebut" [2]. Tulisan ini tidak menilai boleh atau tidaknya merayakan Halloween. Kami menelusuri pertanyaan lain: sebelum jadi pesta kostum, Halloween itu sebenarnya tradisi apa?
Dari mana Halloween berasal?
Halloween adalah singkatan dari All Hallows' Eve, malam sebelum Hari Semua Orang Kudus pada 1 November [1]. Menurut Live Science, akarnya sering ditarik sekitar 2.000 tahun ke belakang, ke festival Celtic bernama Samhain, yang kira-kira berarti "akhir musim panas" [1].
Namun hubungan itu tidak sesederhana yang sering diceritakan. Sejarawan Nicholas Rogers menyebut tidak ada bukti kuat bahwa Samhain khusus dipersembahkan untuk orang mati. Hubungan langsung Samhain dengan Halloween juga belum pernah terbukti, meski banyak ahli menduga keduanya saling memengaruhi karena tanggalnya berdekatan [1].
[Catatan Redaksi] Asal-usul Halloween masih diperdebatkan. Kami tidak memakai klaim soal paus atau tahun tertentu yang memindahkan Hari Semua Orang Kudus, karena sumber yang kami temukan saling berbeda.
Apa itu souling?
Salah satu akar yang lebih jelas adalah souling. Menurut Live Science, pada abad pertengahan di Inggris dan Irlandia, orang miskin mengetuk pintu pada Hallowmas, meminta makanan sebagai ganti doa untuk orang mati [1].
Aleteia, mengutip buku kebiasaan Kristen Inggris Christ Lore (1902), menggambarkan rombongan anak-anak, perempuan tua, atau laki-laki miskin yang mendatangi rumah orang berada. Mereka meminta uang, apel, bir, atau kue. Di beberapa tempat, kue khusus sudah disiapkan untuk dibagikan [3]. Kebiasaan ini terkait doa untuk arwah menjelang Hari Arwah, 2 November, dan sebagian sejarawan melihatnya sebagai cikal bakal trick-or-treat [3].
[Catatan Redaksi] Buku Christ Lore belum kami baca langsung; kami mengutipnya sebagaimana dikutip Aleteia.
Kenapa sekarang identik dengan kostum?
Kebiasaan Halloween menyeberang ke Amerika Utara bersama imigran Irlandia, terutama gelombang pengungsi kelaparan pada paruh pertama abad ke-19. Menurut folklorist Jack Santino, pada pertengahan abad ke-20 Halloween sudah menjadi hari raya anak-anak, dan trick-or-treat baru dimulai di Amerika Serikat sekitar Perang Dunia II [1].
Setelah itu Halloween makin komersial. Kostum produksi massal membuat pilihan kostum meluas dari hantu dan penyihir sampai pahlawan super [1]. Liputan6, mengutip National Retail Federation, menyebut belanja Halloween di Amerika Serikat pada 2026 diperkirakan mencapai 13,5 miliar dolar AS, dan kostum menjadi pos terbesar, yaitu 4,4 miliar dolar AS [4].
Apa miripnya dengan ruwahan?
Kita punya tradisi yang juga mengaitkan makanan dengan doa untuk orang mati. Ruwahan dilakukan pada bulan Ruwah atau Sya'ban, menjelang puasa. Menurut NU Online, kata ruwah berakar dari bahasa Arab, jamak dari roh, alias arwah [5]. Di Lasem, Rembang, warga menyajikan apem dan ketan saat ruwahan [5].
Penelitian Rosalia Susila Purwanti di Dusun Gamping Kidul dan Geblagan, Yogyakarta, mencatat ruwahan bersama yang digelar sejak 1984: warga membersihkan makam, membawa makanan dari rumah untuk kenduri, lalu mendoakan arwah leluhur bersama [6].
Polanya mirip souling: makanan dibagikan, doa dipanjatkan untuk yang sudah meninggal. Kepercayaan bahwa arwah dekat dengan yang hidup juga muncul di cerita lain yang pernah kami telusuri, seperti kenapa malam Jumat dianggap seram dan pamali duduk di depan pintu.
Renungan Arkeologi Keseharian
Yang menyeberang ke mal dan hotel kita adalah Halloween versi Amerika: kostum, permen, dan pesta. Bagian tertuanya, kue yang ditukar doa untuk arwah, justru tertinggal di jalan. Padahal versi itu tidak asing bagi kita. Ia hidup setiap bulan Ruwah, di piring apem yang dibawa ke makam.
Sumber
- Live Science, "The history of Halloween" (terbit 2014, diperbarui oleh Alina Bradford, Tanya Lewis, dan Jeanna Bryner). https://www.livescience.com/40596-history-of-halloween.html
- Maria, "Catat! Ini 5 Acara Halloween di Bali 2026, dari Sanur hingga Canggu", detikBali, 15 Oktober 2026. https://www.detik.com/bali/berita/d-8706849/catat-ini-5-acara-halloween-di-bali-2026-dari-sanur-hingga-canggu
- Philip Kosloski, "Souling for cakes and beer: The Catholic tradition of trick-or-treating", Aleteia, 31 Oktober 2019. https://aleteia.org/2019/10/31/souling-for-cakes-and-beer-the-catholic-tradition-of-trick-or-treating-on-halloween/
- Ibrahim Hasan, "Halloween 2026: Tren Kostum & Film Horor yang Ramai Dicari dan Layak Ditonton Tahun Ini", Liputan6.com, 30 Oktober 2026. https://www.liputan6.com/showbiz/read/8324802/halloween-2026-tren-kostum-amp-film-horor-yang-ramai-dicari-dan-layak-ditonton-tahun-ini
- "Tradisi Ruwahan Jelang Ramadhan, Warisan Budaya Sambut Bulan Suci", NU Online. https://nu.or.id/daerah/tradisi-ruwahan-jelang-ramadhan-warisan-budaya-sambut-bulan-suci-y7BVh
- Rosalia Susila Purwanti, "Tradisi Ruwahan dan Pelestariannya di Dusun Gamping Kidul dan Dusun Geblagan Yogyakarta", Indonesian Journal of Conservation 3(1), Juni 2014. https://journal.unnes.ac.id/nju/ijc/article/view/3089
Redaksi Anekdot
Redaksi Anekdot. Cerita dari rumah sendiri: asal-usul budaya, kebiasaan, dan hal-hal sehari-hari yang membentuk kita.
Cerita di balik kebiasaan kita, langsung ke emailmu.
Gratis. Setiap esai baru Anekdot dikirim ke kotak masukmu, lengkap dengan sumbernya.
Menemukan kekeliruan? Kirim ke [email protected]. Baca Pedoman Editorial.