Saya Tahu Menikah Itu Tidak Mudah, tapi Tidak Menyangka Sulitnya di Sini
Saya sudah tahu menikah itu tidak mudah. Yang tidak saya sangka: yang membuat kewalahan justru hal-hal dasar.
Sebelum menikah, saya sudah tahu menikah itu tidak mudah. Semua orang bilang begitu. Saya membayangkan sulitnya di hal-hal besar: uang, rumah, pekerjaan.
Ternyata yang membuat saya kewalahan justru hal-hal dasar. Hal-hal kecil sehari-hari yang tidak pernah saya bayangkan bakal jadi pelajaran.
Dulu, Cukup Saya Sendiri
Saya termasuk orang yang sederhana. Mau beli sesuatu, ya beli. Mau ke warung pakai kolor, ya berangkat. Hidup terasa ringan karena setiap keputusan hanya melibatkan satu orang: saya sendiri.
Kolor dan Izin Belanja
Setelah menikah, yang pertama berubah justru hal-hal kecil itu. Tidak ada yang memperingatkan saya soal ini.
Keluar rumah pakai kolor sekarang ada yang mengingatkan. Membeli barang sekarang ada obrolannya dulu. Bukan karena saya dilarang, tapi karena uangnya sekarang milik berdua, begitu juga akibatnya.
Keahlian yang Tidak Ada Sekolahnya
Lalu tiba-tiba saya harus punya banyak keahlian baru. Bisa memijat. Bisa mendengarkan cerita tanpa buru-buru memberi solusi. Bisa membaca suasana hati dari cara pintu ditutup. Tidak ada sekolahnya. Semua saya pelajari sambil jalan, sering kali sambil salah.
"Sepele" Itu Relatif
Ada juga hal-hal yang dulu saya anggap ribet. Lama-lama saya sadar, itu cara orang lain melihat dunia. Hal yang menurut saya sepele bisa penting sekali buat pasangan, dan sebaliknya. Bagi saya, menikah ternyata pelajaran panjang bahwa "sepele" itu relatif.
Tanggung Jawab yang Tidak Lagi Sendiri
Yang paling saya rasakan adalah tanggung jawab. Dulu, kalau saya salah langkah, yang menanggung hanya saya. Sekarang setiap keputusan saya ikut ditanggung orang lain. Rasanya lebih berat, tapi juga lebih berarti.
Ekspektasi yang Meleset
Ini bukan cerita menyesal. Ini cerita tentang ekspektasi yang meleset. Saya siap untuk sulit, tapi tidak siap untuk sulit yang seperti ini. Dan cerita semacam ini tidak pernah saya dengar di pelaminan mana pun.
Sekarang saya melihat menikah bukan prestasi yang harus dikejar sebelum usia tertentu. Menikah adalah pekerjaan baru, yang justru dimulai setelah resepsi selesai dan tamu pulang.
Jadi kalau Lebaran nanti ada yang bertanya "kapan nikah?" kepada orang di sekitar saya yang belum menikah, saya ingin menyelanya dengan pertanyaan lain: "Kamu sudah siap repot belum?"
Aliful
Penulis di Anekdot asal Semarang yang pernah belajar teknologi informasi. Menulis karena selalu penasaran pada orang-orang dan kenapa sesuatu bisa terjadi.
Cerita di balik kebiasaan kita, langsung ke emailmu.
Gratis. Setiap esai baru Anekdot dikirim ke kotak masukmu, lengkap dengan sumbernya.
Menemukan kekeliruan? Kirim ke [email protected]. Baca Pedoman Editorial.