Saya Tahu Menikah Itu Tidak Mudah, tapi Tidak Menyangka Sulitnya di Sini

Saya sudah tahu menikah itu tidak mudah. Yang tidak saya sangka: yang membuat kewalahan justru hal-hal dasar.

Aliful · 1 menit baca
Bagikan
Ilustrasi Teras: Celana Kolor vs Celana Panjang
Ilustrasi: Redaksi Anekdot

Sebelum menikah, saya sudah tahu menikah itu tidak mudah. Semua orang bilang begitu. Saya membayangkan sulitnya di hal-hal besar: uang, rumah, pekerjaan.

Ternyata yang membuat saya kewalahan justru hal-hal dasar. Hal-hal kecil sehari-hari yang tidak pernah saya bayangkan bakal jadi pelajaran.

Dulu, Cukup Saya Sendiri

Saya termasuk orang yang sederhana. Mau beli sesuatu, ya beli. Mau ke warung pakai kolor, ya berangkat. Hidup terasa ringan karena setiap keputusan hanya melibatkan satu orang: saya sendiri.

Kolor dan Izin Belanja

Setelah menikah, yang pertama berubah justru hal-hal kecil itu. Tidak ada yang memperingatkan saya soal ini.

Keluar rumah pakai kolor sekarang ada yang mengingatkan. Membeli barang sekarang ada obrolannya dulu. Bukan karena saya dilarang, tapi karena uangnya sekarang milik berdua, begitu juga akibatnya.

Keahlian yang Tidak Ada Sekolahnya

Lalu tiba-tiba saya harus punya banyak keahlian baru. Bisa memijat. Bisa mendengarkan cerita tanpa buru-buru memberi solusi. Bisa membaca suasana hati dari cara pintu ditutup. Tidak ada sekolahnya. Semua saya pelajari sambil jalan, sering kali sambil salah.

"Sepele" Itu Relatif

Ada juga hal-hal yang dulu saya anggap ribet. Lama-lama saya sadar, itu cara orang lain melihat dunia. Hal yang menurut saya sepele bisa penting sekali buat pasangan, dan sebaliknya. Bagi saya, menikah ternyata pelajaran panjang bahwa "sepele" itu relatif.

Tanggung Jawab yang Tidak Lagi Sendiri

Yang paling saya rasakan adalah tanggung jawab. Dulu, kalau saya salah langkah, yang menanggung hanya saya. Sekarang setiap keputusan saya ikut ditanggung orang lain. Rasanya lebih berat, tapi juga lebih berarti.

Ekspektasi yang Meleset

Ini bukan cerita menyesal. Ini cerita tentang ekspektasi yang meleset. Saya siap untuk sulit, tapi tidak siap untuk sulit yang seperti ini. Dan cerita semacam ini tidak pernah saya dengar di pelaminan mana pun.

Sekarang saya melihat menikah bukan prestasi yang harus dikejar sebelum usia tertentu. Menikah adalah pekerjaan baru, yang justru dimulai setelah resepsi selesai dan tamu pulang.

Jadi kalau Lebaran nanti ada yang bertanya "kapan nikah?" kepada orang di sekitar saya yang belum menikah, saya ingin menyelanya dengan pertanyaan lain: "Kamu sudah siap repot belum?"

Aliful
Tentang Penulis

Aliful

Penulis di Anekdot asal Semarang yang pernah belajar teknologi informasi. Menulis karena selalu penasaran pada orang-orang dan kenapa sesuatu bisa terjadi.

Newsletter Anekdot

Cerita di balik kebiasaan kita, langsung ke emailmu.

Gratis. Setiap esai baru Anekdot dikirim ke kotak masukmu, lengkap dengan sumbernya.

Hampir selesai! Cek email kamu dan klik tautan konfirmasi.

Maaf, ada yang gagal. Coba lagi sebentar.

Menemukan kekeliruan? Kirim ke [email protected]. Baca Pedoman Editorial.

Baca juga