Dari Mana Asal Mula Bendera Kuning Jadi Tanda Kematian?

Di dunia tanda duka itu hitam atau putih. Cuma di Indonesia yang memakai bendera kuning. Lacak asal-usulnya dari bendera karantina kolera di Batavia abad ke-19.

Redaksi Anekdot · 2 menit baca
Bagikan
Dari Mana Asal Mula Bendera Kuning Jadi Tanda Kematian?

Kode Karantina di Pelabuhan Batavia

Jawabannya tidak berakar dari naskah kuno kerajaan Nusantara, melainkan dari regulasi sanitasi maritim era kolonial Hindia Belanda pada abad kesembilan belas.

Dalam sistem navigasi maritim internasional (International Code of Signals), setiap kapal yang berlayar diwajibkan memiliki seperangkat bendera isyarat. Salah satu bendera yang paling penting adalah bendera bersandi huruf "Q" atau disebut Quebec, yang wujudnya adalah selembar kain polos berwarna kuning cerah. Di kalangan pelaut dunia, bendera ini dikenal luas dengan julukan Yellow Jack.

Kala itu, bendera kuning memiliki fungsi krusial: jika sebuah kapal yang hendak merapat ke pelabuhan mengibarkan bendera kuning, itu adalah tanda bahaya bahwa kapal tersebut membawa penumpang yang terjangkit wabah penyakit menular mematikan, seperti kolera, pes, atau cacar air.

Kapal berbendera kuning dilarang bersandar sembarangan dan wajib menjalani masa karantina ketat di pulau-pulau terluar (seperti Pulau Onrust di Kepulauan Seribu) agar penyakitnya tidak menyebar ke daratan Batavia.


Wabah Kolera dan Pintu Rumah Warga

Aturan karantina pelabuhan ini kemudian merembes ke daratan ketika pandemi kolera hebat menghantam Pulau Jawa pada tahun 1821 dan berulang pada dekade 1850-an.

Kala itu, Batavia berubah menjadi kota maut. Sungai-sungai dan kanal kota yang tercemar bakteri kolera membuat ribuan warga pribumi, Tionghoa, hingga warga Eropa meninggal mendadak hanya dalam hitungan hari. Pemerintah kolonial Hindia Belanda yang panik mulai memberlakukan sistem karantina wilayah secara ketat di pemukiman padat penduduk.

Untuk membatasi penularan, petugas kesehatan kolonial mengadopsi sistem bendera maritim ke darat. Setiap rumah warga yang salah satu anggota keluarganya terinfeksi wabah kolera diwajibkan memasang selembar kain atau bendera kuning di depan pagar rumah mereka. Di atas bendera kuning tersebut, petugas mencantumkan huruf "Q" besar sebagai kependekan dari Quarantine.

Tujuannya sangat praktis: memperingatkan tetangga dan orang yang lewat agar tidak mendekat, tidak masuk ke dalam rumah, dan menjaga jarak demi keselamatan bersama.


Salah Kaprah yang Menjadi Tradisi

Namun di sinilah pergeseran makna itu terjadi.

Tingkat kematian akibat wabah kolera pada masa itu sangat tinggi. Fasilitas medis masih sangat terbatas, sehingga hampir setiap rumah yang dipasangi bendera kuning huruf Q pada akhirnya berujung pada kematian sang penderita. Bagi masyarakat awam di perkampungan yang tidak paham bahasa Belanda maupun sistem kode alfabet maritim, bendera kuning tidak lagi dipahami sebagai tanda karantina medis, melainkan dianggap sebagai tanda bahwa di rumah tersebut baru saja ada orang yang meninggal dunia.

Ketika wabah-wabah besar akhirnya mereda dan masa kolonial berlalu, ingatan visual itu telanjur membeku dalam memori kolektif masyarakat.

Huruf "Q" pada bendera tersebut perlahan-lahan lenyap. Namun kebiasaan mengibarkan kain atau kertas kuning di mulut gang setiap kali ada warga yang meninggal dunia tetap dipertahankan secara turun-temurun. Dari sebuah tanda bahaya isolasi penyakit menular di abad kesembilan belas, bendera kuning berevolusi menjadi simbol solidaritas sosial dan panduan jalan bagi para pelayat hingga hari ini.


Sumber & Daftar Rujukan:

  1. Hesselink, Liesbeth. (2011). Healers on the Colony: Nurses, Weenvrouwen and Dokter Djawa in the Dutch East Indies. KITLV Press, Leiden.
  2. Boomgaard, Peter. (1996). Smallpox, Cholera, and Plague in the Nineteenth-Century Dutch East Indies: Health and Diseases in Colonial Society. Cambridge University Press.
  3. International Maritime Organization (IMO). International Code of Signals (ICS): Code Flag Q (Quebec) - Maritime Quarantine Regulations.
  4. Departemen Kesehatan RI. Sejarah Perkembangan Sanitasi dan Karantina Kesehatan di Indonesia: Dari Masa Kolonial Hingga Kemerdekaan.
Redaksi Anekdot
Tentang Penulis

Redaksi Anekdot

Redaksi Anekdot. Cerita dari rumah sendiri: asal-usul budaya, kebiasaan, dan hal-hal sehari-hari yang membentuk kita.

Newsletter Anekdot

Cerita di balik kebiasaan kita, langsung ke emailmu.

Gratis. Setiap esai baru Anekdot dikirim ke kotak masukmu, lengkap dengan sumbernya.

Hampir selesai! Cek email kamu dan klik tautan konfirmasi.

Maaf, ada yang gagal. Coba lagi sebentar.

Menemukan kekeliruan? Kirim ke [email protected]. Baca Pedoman Editorial.