> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://anekdot.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Kenapa Sumpah Pemuda Tidak Menyebut 'Satu Bahasa'?
- URL: https://anekdot.id/kenapa-sumpah-pemuda-tidak-menyebut-satu-bahasa/
- Published: 2026-10-28T01:37:55.000Z
- Updated: 2026-10-30T08:38:33.000Z
- Description: Banyak yang hafal satu bahasa dari lagu, namun teks asli Sumpah Pemuda 1928 memilih frasa menjunjung bahasa persatuan demi merawat bahasa daerah.
- Author: Redaksi Anekdot
- Tags: Basa-Basi, muasal

Hampir setiap warga Indonesia hafal di luar kepala ritme tiga ikrar 28 Oktober: satu nusa, satu bangsa, satu bahasa. Hafalan itu melekat begitu kuat lewat pelajaran sekolah dasar dan nyanyian lagu wajib nasional "Satu Nusa Satu Bangsa" gubahan Liberty Manik (1947), yang liriknya memang memuat frasa "satu bahasa kita".

Namun bila kita melangkah masuk ke Museum Sumpah Pemuda di Jalan Kramat Raya 106, Jakarta Pusat, dan membaca piagam batu prasasti bertuliskan ejaan van Ophuijsen, kita akan menemukan sebuah ketelitian linguistik yang sering luput.

Teks aslinya tidak pernah berbunyi "mengaku berbahasa yang satu". Teks butir ketiga itu berbunyi:

> *"Kami poetra dan poetri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia."*

Perbedaan antara "satu bahasa" dan "menjunjung bahasa persatuan" bukanlah sekadar permainan rima sastra para pemuda. Di balik pemilihan kata itu, tersimpan kompromi sosiologis dan visi peradaban yang menyelamatkan ratusan bahasa daerah dari kepunahan formal.

---

### Perangkap Hegemoni Bahasa Tunggal

Jika para pemuda pada Kongres Pemuda II tahun 1928 memilih klausul mutlak "satu bahasa", implikasi hukum dan sosialnya akan sangat destruktif bagi keragaman kepulauan Nusantara.

Konsep "satu negara, satu bahasa" jamak diterapkan di banyak negara pada abad ke-19 dan awal abad ke-20 dengan konsekuensi pemusnahan paksa identitas lokal. Di Prancis, kebijakan *Vergonha* menekan habis bahasa Occitan, Breton, dan Basque demi supremasi bahasa Prancis standar. Di Spanyol di bawah Franco, bahasa Katalan dan Basque dilarang di ruang publik.

Bila rumus penyeragaman itu diterapkan di Indonesia, maka bahasa Jawa yang dituturkan hampir separuh delegasi kongres, bahasa Sunda, Minang, Bugis, hingga ratusan bahasa di Kepulauan Maluku dan Papua akan ditempatkan pada posisi subordinat yang terancam dicap tidak nasionalis.

Mohammad Yamin yang merumuskan teks tersebut, bersama ketua kongres Soegondo Djojopoespito, sangat menyadari sensitivitas ini. Menjadikan bahasa Melayu yang kemudian dinamai bahasa Indonesia sebagai "bahasa persatuan" berarti menempatkannya sebagai *lingua franca*—bahasa jembatan untuk berkomunikasi lintas etnis—tanpa mengharuskan warga menanggalkan bahasa ibunya.

---

### Menghindari Tirani Mayoritas

Keputusan memilih bahasa Melayu sebagai fondasi bahasa persatuan adalah anomali sejarah yang luar biasa cerdas. Suku Jawa pada masa itu merupakan kelompok mayoritas mutlak di Hindia Belanda (sekitar 47 persen populasi). Namun, para tokoh pergerakan asal Jawa berbesar hati untuk tidak memaksakan bahasa Jawa menjadi bahasa nasional.

Bahasa Jawa memiliki tingkat tutur (*unggah-ungguh*) yang feodal dan rumit dipelajari oleh suku lain dalam tempo singkat. Sebaliknya, bahasa Melayu telah berabad-abad menjadi bahasa pasar di pelabuhan-pelabuhan kepulauan, egalitarian, dan mudah beradaptasi dengan konsep-konsep modern. Kebiasaan menyerap itu masih terasa sampai sekarang, misalnya dalam [panggilan "pus" untuk kucing yang berasal dari bahasa Belanda](https://anekdot.id/kenapa-kucing-dipanggil-pus-bahasa-belanda/).

Dengan ikrar "menjunjung bahasa persatuan", para pendiri bangsa menciptakan ruang ekologis di mana bahasa nasional dan bahasa daerah hidup berdampingan. Bahasa Indonesia digunakan untuk administrasi negara, pendidikan tinggi, sains, dan diplomasi; sementara bahasa daerah tetap menjadi penjaga memori kolektif, kearifan lokal, dan keintiman keluarga.

---

### Warisan yang Bertahan Hari Ini

Kecermatan para pemuda 1928 terbukti berdaya tahan hingga hampir seabad kemudian. Berdasarkan data Sensus Penduduk Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia memiliki lebih dari 700 bahasa daerah yang masih hidup. Meski begitu, tidak semuanya aman: sebagian besar bahasa yang sudah punah justru berasal dari Maluku, seperti yang kami telusuri dalam [paradoks bahasa daerah di Maluku](https://anekdot.id/paradoks-maluku-setia-di-rumah-rentan-di-peta/). Sekitar tiga dari empat penduduk Indonesia terbiasa menggunakan dwibahasa: bahasa Indonesia di ruang publik atau kantor, dan bahasa daerah di lingkungan rumah serta kerabat.

Bahasa Indonesia hadir bukan sebagai algojo yang menyembelih bahasa daerah, melainkan payung teduh yang menyatukan mereka semua.

---

### Sumber & Rujukan Arsip:

1. Museum Sumpah Pemuda, *Buku Peringatan Kongres Pemoeda-Pemoeda Indonesia Kedua*, Jakarta.
2. Mohammad Tabrani (1979), *Anak Nakal Menjadi Pemimpin Pemuda*, Jakarta: Grasindo.
3. James T. Siegel (1997), *Fetish, Recognition, Revolution*, Princeton University Press.
4. Benedict Anderson (1983), *Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism*, Verso.
5. Badan Pusat Statistik (BPS), *Kewarganegaraan, Suku Bangsa, Agama, dan Bahasa Sehari-hari Penduduk Indonesia (Hasil Sensus Penduduk)*.