> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://anekdot.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Kenapa Negara Kepulauan Masih Impor Garam?
- URL: https://anekdot.id/kenapa-negara-kepulauan-masih-impor-garam/
- Published: 2026-10-29T03:53:25.000Z
- Updated: 2026-10-29T03:53:25.000Z
- Description: Kebutuhan garam sekitar 4,9 juta ton, produksi sekitar 2 juta ton, dan yang diimpor terutama garam industri. Pemerintah menargetkan tanpa impor pada 2027.
- Author: Redaksi Anekdot
- Tags: Seri Pangan, muasal, Sejarah Sepiring

Indonesia masih mengimpor garam karena produksinya kurang dari separuh kebutuhan: kebutuhan nasional diperkirakan 4,9 sampai 5 juta ton, sedangkan produksi 2024 sekitar 2,04 juta ton \[1\]. Menurut KKP, yang diimpor terutama garam industri, pada 2024 sekitar 1,2 juta ton untuk pabrik klor-alkali (CAP) dan 600 ribu ton untuk industri aneka pangan \[2\].

Ini episode kedua Seri Pangan. Episode pertama membahas [kenapa swasembada beras 1984 tidak bertahan](https://anekdot.id/kenapa-swasembada-beras-1984-tidak-bertahan/), dan episode ketiga tentang [peralihan Mentawai dari sagu ke nasi](https://anekdot.id/kenapa-mentawai-beralih-dari-sagu-ke-nasi/). Tulisan ini tidak menilai apakah target pemerintah akan tercapai; kami hanya membaca angka dan pernyataan yang tersedia.

## Berapa jauh produksi garam dari kebutuhannya?

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menyebut kebutuhan garam dalam negeri 4,9 juta ton per tahun, sementara produksi nasional "tahun lalu" hanya 2,3 juta ton (detikFinance, Desember 2024) \[3\]. Analis DPR mencatat produksi 2024 sekitar 2,04 juta ton dan kebutuhan 4,9 sampai 5 juta ton \[1\]. KKP kemudian menyebut produksi 2025 turun menjadi sekitar 1 juta ton, terutama karena cuaca dengan hujan yang deras \[4\].

| Yang tercatat                             | Angka                                                                        |
| ----------------------------------------- | ---------------------------------------------------------------------------- |
| Kebutuhan nasional per tahun              | 4,9 juta ton \[3\]; 4,9 sampai 5 juta ton \[1\]; 4,5 sampai 5 juta ton \[4\] |
| Produksi, "tahun lalu" (artikel Des 2024) | 2,3 juta ton \[3\]                                                           |
| Produksi 2024                             | sekitar 2,04 juta ton \[1\]                                                  |
| Produksi 2025                             | sekitar 1 juta ton \[4\]                                                     |

> **\[Catatan Redaksi\]** Angka antar-sumber berbeda tipis karena tahun dan basis hitungnya tidak sama. Satu pemberitaan lain yang kami baca sebelumnya (tanpa tautan di sini karena tidak bisa kami buka lagi saat menulis ini) menyebut kebutuhan sekitar 4,7 juta ton dan produksi sekitar 2,5 juta ton. Semua angka itu menunjuk hal yang sama: produksi sekitar separuh kebutuhan atau kurang, dan lebih rendah lagi pada 2025.

## Garam apa yang sebenarnya diimpor?

Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP, Koswara, mengatakan garam konsumsi sebenarnya sudah swasembada. Yang kurang dan diimpor adalah garam industri \[2\]. Pada 2024, katanya, impor untuk CAP sekitar 1,2 juta ton dan untuk aneka pangan 600 ribu ton \[2\].

> **\[Catatan Redaksi\]** Kami tidak menjumlahkan dua angka impor itu karena total impor yang beredar di pemberitaan berbeda-beda, dan sumber yang kami baca tidak menjelaskan basis hitungnya. Penjelasan CAP sebagai pabrik klor-alkali adalah bahasa umum, bukan kutipan dari artikel tersebut.

## Apakah masalahnya soal kualitas?

Syarat kemurnian memang berbeda. Menteri Trenggono menyebut garam konsumsi minimal 95% NaCl, sedangkan garam industri minimal 97% \[3\]. Dari angka yang kami baca, selisih terbesar tetap ada pada jumlah, bukan kualitas. Sumber-sumber tersebut tidak menyebut kemurnian sebagai satu-satunya penyebab impor.

## Kenapa garam rakyat sulit memenuhi kebutuhan?

Sumber yang kami baca tidak menyebut satu penyebab tunggal. Kepala Pusat Riset Ekonomi Industri, Jasa, dan Perdagangan BRIN, Umi Muawanah, menyebut tantangan terutama dari cuaca: Indonesia termasuk negara dengan curah hujan tinggi. Tantangan keduanya lahan yang terbatas, ditambah petambak garam yang merupakan pelaku tradisional dengan teknologi sederhana \[6\].

Guru Besar Teknologi Pergaraman Universitas Trunojoyo, Makhfud Effendi, menjelaskan bahwa garam di Indonesia sebagian besar dibuat secara tradisional dengan sinar matahari untuk penguapan, sehingga sering terganggu hujan. Katanya, "Kalau dulu bisa imbang 6:6, sekarang kadang kemaraunya empat bulan, musim hujannya delapan bulan" \[6\].

Masalah lain ada di mutu dan harga. Mongabay menulis bahwa garam rakyat dinilai kurang memenuhi standar industri hingga tidak terserap, dan harga garam impor memang jauh lebih murah dibandingkan produksi lokal \[6\].

INDEF menambahkan sisi tata kelola. Menurut lembaga itu, neraca kebutuhan garam nasional belum disusun secara transparan dan berbasis data, sehingga kebijakan impor rentan ditetapkan melebihi kebutuhan riil \[7\]. INDEF juga menulis bahwa lebih dari 55 persen kebutuhan garam 2024 dipenuhi impor, terutama garam industri spesifikasi tinggi, dan defisitnya terjadi pada garam industri, bukan konsumsi \[7\].

> **\[Catatan Redaksi\]** Bagian ini berisi pendapat narasumber, bukan hasil pengukuran kami. Angka produksi di sumber-sumber ini juga berbeda: sekitar 2 juta ton (KKP, 2025), 2,04 juta ton (DPR, 2024), dan sekitar 2,5 juta ton (INDEF). Kami belum menemukan satu tabel resmi yang menyatukannya.

## Apa target pemerintah?

Peraturan Presiden 17 Tahun 2025 mewajibkan kebutuhan garam industri aneka pangan dan tekstil dipenuhi dari dalam negeri paling lambat 31 Desember 2025, dan industri kimia atau klor-alkali paling lambat 31 Desember 2027 \[5\]. Wakil Menteri KKP Didit Herdiawan, pada September 2025, mengatakan "tahun 2027 tidak impor (garam lagi)", tetapi "tahun ini dan tahun depan" (artikel terbit September 2025) masih ada beberapa yang diimpor \[2\].

Pada akhir 2025, KKP menilai penurunan produksi menjadi tantangan tersendiri untuk target 2027 \[4\]. Kami tidak menemukan sumber yang menyatakan apakah tenggat 31 Desember 2025 untuk aneka pangan dan tekstil sudah tercapai.

## Renungan Arkeologi Keseharian

Garam hampir tak terlihat di meja makan, tapi pabrik dan dapur kita bergantung padanya. Negara dengan garis pantai panjang ternyata tidak otomatis punya garam yang cukup. Cuaca, jenis garam, dan jenis industri yang memakainya membuat jawabannya berlapis.

---

### Sumber

1. Rizki Mona Syawlia, "Mewujudkan Swasembada Garam Nasional 2027", Isu Sepekan Komisi IV, Minggu ke-4, 21-27 April 2025, Pusat Penelitian Badan Keahlian DPR RI. [https://berkas.dpr.go.id/pusaka/files/isu\_sepekan/Isu%20Sepekan---IV-PUSLIT-April-2025-2491.pdf](https://berkas.dpr.go.id/pusaka/files/isu%5Fsepekan/Isu%20Sepekan---IV-PUSLIT-April-2025-2491.pdf?ref=anekdot.id)
2. Martyasari Rizky, "Titiek Soeharto Tanya Kapan RI Swasembada Garam? KKP Tegas Jawab Ini", CNBC Indonesia, 16 September 2025\. [https://www.cnbcindonesia.com/news/20250916173129-4-667516/titiek-soeharto-tanya-kapan-ri-swasembada-garam-kkp-tegas-jawab-ini](https://www.cnbcindonesia.com/news/20250916173129-4-667516/titiek-soeharto-tanya-kapan-ri-swasembada-garam-kkp-tegas-jawab-ini?ref=anekdot.id)
3. Retno Ayuningrum, "RI Mau Tutup Keran Impor Garam Mulai 2025, Emang Bisa?", detikFinance, 10 Desember 2024\. [https://finance.detik.com/industri/d-7679403/ri-mau-tutup-keran-impor-garam-mulai-2025-emang-bisa](https://finance.detik.com/industri/d-7679403/ri-mau-tutup-keran-impor-garam-mulai-2025-emang-bisa?ref=anekdot.id)
4. Ahmad Fikri Noor, "Produksi Garam Nasional 2025 Anjlok, Target Swasembada Masih Menantang", Republika, 30 Desember 2025\. [https://ekonomi.republika.co.id/berita/t831z0490/produksi-garam-nasional-2025-anjlok-target-swasembada-masih-menantang](https://ekonomi.republika.co.id/berita/t831z0490/produksi-garam-nasional-2025-anjlok-target-swasembada-masih-menantang?ref=anekdot.id)
5. Martyasari Rizky, "Industri RI Ini Masih Bisa Pakai Garam Impor sampai Akhir 2027", CNBC Indonesia, 14 April 2025\. [https://www.cnbcindonesia.com/news/20250414142841-4-625835/industri-ri-ini-masih-bisa-pakai-garam-impor-sampai-akhir-2027](https://www.cnbcindonesia.com/news/20250414142841-4-625835/industri-ri-ini-masih-bisa-pakai-garam-impor-sampai-akhir-2027?ref=anekdot.id)
6. A. Asnawi dan M Ambari, "Mengejar Swasembada Garam di Tengah Krisis Iklim", Mongabay Indonesia, 26 April 2025\. [https://www.mongabay.co.id/2025/04/26/mengejar-swasembada-garam-di-tengah-krisis-iklim/](https://www.mongabay.co.id/2025/04/26/mengejar-swasembada-garam-di-tengah-krisis-iklim/?ref=anekdot.id)
7. Rahmat Fiansyah, "INDEF Dorong Pembenahan Tata Kelola Impor Menuju Swasembada Garam 2027", IDX Channel, 30 Juni 2026\. [https://www.idxchannel.com/economics/indef-dorong-pembenahan-tata-kelola-impor-menuju-swasembada-garam-2027](https://www.idxchannel.com/economics/indef-dorong-pembenahan-tata-kelola-impor-menuju-swasembada-garam-2027?ref=anekdot.id)